Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini menegaskan sistem pemilihan langsung telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari demokrasi elektoral Indonesia. Dia meminta hal itu tak diusik dengan mengatasnamakan pandemi Corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titi mengingatkan pilkada tidak langsung bukan solusi dalam keadaan seperti ini. Dia mencontohkan pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang ditangani DPRD. Kursi Wagub itu telah kosong sejak akhir 2018 dan pemilihan baru bisa rampung 1,5 tahun setelahnya.
"Itu mengajarkan bahwa pemilihan dari DPRD juga tidak bisa sepenuhnya menjadi jawaban atas kebutuhan efektivitas dan optimalisasi praktik dalam berdemokrasi," ucap Titi.
Titi berpendapat sebaiknya para elite politik tidak melontarkan wacana kontroversial. Menurut dia, lebih baik elite fokus menangani pandemi corona.
Sementara untuk pilkada, Titi meminta elite politik untuk merumuskan cara terbaik menggelar pilkada di situasi seperti sekarang.
Wacana penerapan format pilkada tidak langsung kembali dilontarkan oleh Politikus Partai Golkar Provinsi Kepulauan Riau, Agustar.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat memastikan penanganan Covid-19 tuntas pada Juli 2020 dengan kondisi saat ini. Jika pandemi tak kunjung selesai, dia menyebut berpotensi menggeser seluruh pemilihan, termasuk Pemilu 2024.
(dhf/arh)