Alex mengungkapkan kendala yang dihadapi pemerintah melakukan tes menggunakan metode PCR, salah satunya adalah ketersediaan reagen, cairan yang dapat mendeteksi genetik dalam virus. Jika reagen tersedia pun butuh laboratorium dan tenaga ahli untuk mengoperasikannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alat PCR impor, termasuk reagen, karena pandemi, banyak negara memerlukan reagen primer, sedangkan produksi terkendala karena banyak negara yang lockdown," ujarnya.
Namun kemarin, Selasa (21/4), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan beberapa laboratorium berhenti beroperasi lantaran reagen belum sampai.
Menurutnya, dibutuhkan biosafety laboratorium (BSL) level 2 untuk melakukan tes PCR. Kemudian masing-masing laboratorium harus memiliki SDM dalam jumlah banyak untuk mendeteksi virus menggunakan PCR.
"Makanya kementerian harus hati-hati membeli ribuan PCR, karena memerlukan seribuan dokter ahli patologi klinik atau ahli lab biomolekuler," kata Alex.
Lebih lanjut, Alex menjelaskan alasan pemerintah memilih rapid test untuk deteksi dini Covid-19. Menurutnya, tes PCR membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding rapid test untuk mendeteksi keberadaan virus, disamping kendala fasilitas dan SDM.
"Rapid waktunya cepat, PCR butuh waktu lama sementara manusia bergerak pindah dan mengganggu surveilans penyakit. Rapid bisa dikerjakan perawat tanpa takut risiko virologi," kata Alex.
Sementara itu, Achmad Yurianto mengatakan tes PCR diutamakan untuk pasien dalam pengawasan (PDP). Sedangkan rapid test diperuntukan bagi masyarakat yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP).
"Kami kejar-kejaran untuk PCR pada PDP, tetapi terkendala reagen habis. Dan baru bertahap sampai dengan tanggal 28 kami terima 700 ribuan didatangkan oleh gugus tugas," kata Yurianto.
Berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen itu, jumlah kasus positif virus corona secara kumulatif mencapai 7.135 kasus. Dari jumlah itu, 616 orang meninggal dunia dan 842 orang dinyatakan sembuh.
Sementara, jumlah ODP mencapai 186.330 dan PDP sebanyak 16.763. Virus corona sudah menyebar di 257 kabupaten/kota seluruh provinsi Indonesia. (mln/fra)