Sejumlah saksi dan anggota polisi yang terlibat dipanggil untuk dimintai keterangan oleh Propam Polres Sumenep.
"Saat ini sedang mengundang pihak Gusdurian termasuk anggota kami dan saksi-saksi di TKP untuk dilakukan klarifikasi oleh Seksi Propam Polres Sumenep," kata Deddy saat dikonfirmasi, Rabu (22/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deddy menerangkan, foto tersebut diambil saat anggota kepolisian di lokasi sedang berganti tugas sehingga salah satu diantara polisi tersebut terlihat sedang beristirahat. Pengambilan foto itu membuat anggota di sana tidak terima karena relawan Gusdurian mengambil gambar secara diam-diam.
"Yang sebenarnya adalah hanya menegur dan tidak perlu lagi melakukan pemotretan," tambah dia.
Sebelumnya Koordinator bagi-bagi sembako, Gusdurian Sumenep, Abdullah Alkudus mengungkapkan, percekcokan dilatarbelakangi saat mengambil gambar foto polisi yang bersiaga sedang beristirahat tidur. Semula, kata dia, kegiatan berjalan lancar, namun polisi tiba-tiba memprotes setelah diketahui salah satu anggota ormas itu ada yang mengambil gambar.
"Anak buah kami dihampiri dan dipukul sebanyak tiga kali oleh oknum polisi. Dia memprotes karena mengambil gambar tanpa pamit," kata Abdullah, Selasa (21/4).
Abdullah mengatakan persoalan mengambil gambar tanpa izin di sela kegiatan kelompoknya, bukanlah hal baru. Pasalnya, setiap kegiatan yang berlangsung, gambar foto diambil untuk dibuat dokumentasi yang kemudian dijadikan laporan kegiatan.
"Persoalan polisi tidur, foto itu direncanakan dibuat dokumentasikan bahwa mereka tengah berjuang secara serius dalam memerangi pandemi virus corona. Tapi sayang mereka bertindak kasar," ungkapnya. (osc/mjo/osc)