Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling sedikit melakukan tes terkait virus corona di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data per Selasa (21/4), pemerintah hanya mampu melakukan tes terkait virus corona terhadap 50.374 spesimen dari 46,173 orang atau hanya 184 tes per 1 juta populasi.
Menurutnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah secara terbuka mengingatkan pemerintah akan kemungkinan terburuk bahwa Indonesia berpotensi menjadi episentrum baru pandemi Covid-19 di Asia.
Sohibul meminta peringatan dari WHO itu menjadi bahan intropeksi pemerintah. Ia juga meminta pemerintah belajar dari cara negara lain dalam menangani pandemi virus corona dalam memformulasikan kebijakannya.
"Ada cara China dan Eropa yang memilih lockdown policy. Ada cara masif and rapid test seperti Korea Selatan dan Singapura, atau seperti Vietnam dengan komando militernya melakukan direct-contact tracing dan social distancing secara sangat ketat dan disiplin," katanya.
Ia juga berpandangan pemerintah pusat terkesan ingin lepas tangan dengan berbagi beban dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah dengan memilih menerapkan kebijakan PSBB.
"Dalam situasi krisis, republik ini sangat membutuhkan hadirnya pemimpin nasional yang dapat memberikan sense of direction and confidence kepada rakyatnya, agar rakyat punya harapan dan keyakinan bahwa pemimpinnya dapat diandalkan." ujarnya.
Sebelumnya, Jokowi meminta jajarannya terutama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 agar meningkatkan jumlah tes PCR untuk mendeteksi virus corona. Jokowi ingin tes PCRR bisa dilakukan lebih dari 10 ribu per hari.
"Impossible 10 ribu sehari," ujar Alex kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/4). (mts/fra)