Dalam tayangan video yang disiarkan BNPB, Fitdy mengungkapkan curahan hatinya (curhat) kerinduan untuk bisa segera bertemu keluarga di tengah kesibukannya memerangi penyebaran covid-19.
Dengan latar belakang militer yang dimilikinya, beberapa tahun terakhir, ia sudah pernah merasakan tugas-tugas yang cukup berat. Namun tugas-tugas itu berbeda dengan tugasnya di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet dalam penanganan corona saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mural dukungan untuk para tenaga medis melawan Covid-19 di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Depok, Jawa Barat, Jumar (3/4/2020). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya) |
Tak bisa bertemu secara langsung dengan keluarga, ia memanfaatkan handphone untuk sekadar berkomunikasi dengan keluarga. Disela-sela tugas, video call hingga berkirim foto dengan keluarga menjadi obat untuk mengatasi rasa rindunya.
"Sangat terbantu dengan media komunikasi, sehingga disela jadwal shift atau jaga, kami memanfaatkan waktu untuk komunikasi dengan keluarga," ucap dia.
"Ada waktu dimana kami merasa jenuh, kami berolahraga dan sebagainya. Ada beberapa lantai bisa digunakan untuk olahraga. kita olahraga masing-masing. ada yang memanfaatkan fasilitas yang ada hiburan, untuk mengusir rasa bosan," kata dia.
Sebagai tenaga medis, motivasi dan semangat sangat penting untuk tetap dijaga baginya agar bisa memberikan pelayanan terbaik bagi pasien yang memerlukan.
Ia mengaku optimistis, Indonesia akan mampu terlepas dari pandemi covid-19, asalkan masyarakat patuh dan disiplin untuk mengikuti anjuran yang disampaikan oleh pemerintah.
"Terkait stigma (tenaga medis), kadang terlihat ditolak di masyarakat karena akan membawa virus karena kita menyentuh pasien, mohon kami juga manusia, kami laksanakan ini dengan hati. Mohon terimalah kami juga dengan hati," ucap dia. (yoa/bac)
Mural dukungan untuk para tenaga medis melawan Covid-19 di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Depok, Jawa Barat, Jumar (3/4/2020). (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)