Ahli Epidemiologi UI: Terlalu Dini Sebut Corona Melambat

CNN Indonesia | Kamis, 30/04/2020 10:21 WIB
A health worker conducts a swab test for the new coronavirus on a Muslim woman, in Bogor, Indonesia, Monday, April 27, 2020. The world's Muslims have begun Ramadan with dawn-to-dusk fasting amid restrictions imposed to slow the pandemic that left many confined to their homes and public venues like parks, malls and even mosques are shuttered. (AP Photo/Arr Rayan) Ilustrasi pemeriksaan uji cepat atau rapid test virus corona (AP/Arr Rayan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ahli Epidemiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Indah Suci Widyahening memandang terlalu cepat jika menyimpulkan bahwa penambahan kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia sudah melambat. Menurutnya, penambahan kasus positif masih tergolong cepat beberapa hari terakhir

"Untuk Indonesia, bila dilihat dari kurva kasus positif harian tampaknya masih terlalu dini untuk menyatakan ada tanda penurunan," kata Indah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (30/4).

Suci mengamini penambahan 260 kasus pada 29 April cenderung kecil dibanding hari sebelumnya dengan penambahan 415 kasus. Akan tetapi, dia mengingatkan penambahan kasus di beberapa hari sebelumnya.


"Sejak awal April sampai sekarang terdapat 4 titik waktu (12, 17, 24 dan 28 April) di mana jumlah kasus harian mencapai angka 400 atau lebih," ujarnya.
Kasus Covid-19 di Indonesia, menurutnya, belum menunjukkan pelambatan. Ia mengatakan pelambatan terjadi jika kasus positif menurun dan jumlah orang yang diperiksa juga menurun. Itu menunjukkan rantai penularan mulai berkurang.

Pelambatan juga bisa dilihat dari rasio jumlah kasus yang positif semakin mengecil dibanding jumlah orang yang diperiksa setiap harinya.

"Saya melihat hal ini belum terjadi," kata Indah.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, hingga 29 April, ada 67.784 orang yang diperiksa spesimennya. Bertambah 5.240 dibanding hari sebelumnya.
Kemudian pada 28 April, ada 62.544 orang yang telah diperiksa spesimennya. Angka itu bertambah 3.135 dibanding hari sebelumnya. Terhitung sejak 21 April, orang yang spesimennya dites selalu di atas seribu.

Merujuk data tersebut, Indah menilai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tetap diperlukan guna memutus rantai penularan. Larangan mudik juga perlu dipertegas untuk menghindari penularan di luar daerah Jakarta.

Indah melihat jumlah kasus Covid-19 di Jakarta yang semakin menurun dikarenakan penerapan PSBB. Namun angka infeksi virus corona di DKI Jakarta masih cukup tinggi sehingga PSBB harus tetap dilakukan.

"Bila penduduk Jakarta yang angka infeksi masih cukup tinggi dibiarkan bepergian ke daerah-daerah lain yang angka infeksinya masih relatif lebih rendah, bisa terjadi peningkatan angka infeksi di daerah2 di luar Jakarta," ucapnya.
Sebelumnya Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyebut kasus positif corona di DKI Jakarta mengalami perlambatan pesat karena diberlakukannya PSBB.

"Khusus DKI perkembangan kasus positif telah mengalami perlambatan sangat pesat dan saat ini sudah mengalami flat," ujar Doni, Senin (27/4). (mln/bmw)

[Gambas:Video CNN]