KLHK Antisipasi Potensi Karhutla di Tiga Provinsi

CNN Indonesia | Kamis, 30/04/2020 15:09 WIB
Kabut asap tipis menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Satgas Karhutla Riau, kualitas udara di sejumlah area di Pekanbaru, Kampar, Rohil, Bengkalis dan Siak mulai menurun ke kondisi sedang hingga tidak sehat akibat pengaruh asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang belum bisa dipadamkan total. ANTARA FOTO/FB Anggoro/aww. Ilustrasi. Dampak kebakaran hutan dan lahan di Riau. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki musim kemarau di tiga provinsi di Indonesia: Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi.

Menurut prediksi BMKG, tiga provinsi tersebut memasuki kemarau pada bulan Juni hingga Juli. Pemerintah menyiapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC), berupa hujan buatan mulai Mei ini.

"Karena pada bulan tersebut potensi awan masih optimal untuk penyemaian garam untuk hujan buatan," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Agung Sugardiman kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Kamis (30/4).


Sedangkan Riau, Sumatera Selatan dan Jambi dipilih sebagai tiga lokasi TMC karena memiliki indikasi karhutla lebih besar ketimbang wilayah lain. Ruandha mengatakan karhutla bahkan sudah terjadi di Pulau Rupat dan Bengkalis, Riau awal tahun ini.

TMC bakal dilakukan dengan pesawat CN 235 dengan bantuan TNI, bersama BPPT, BMKG, BNPB dan KLHK. Pesawat ini mempunyai kapasitas lebih besar dari pesawat yang dimiliki BPPT.

"[Selain itu KLHK juga] mendorong peran aktif mitra pelaku usaha dan Pemda mendukung pelaksanaan TMC dan pembasahan lahan gambut, seperti pembuatan sekat kanal, pembangunan sumur bor, dan embung di wilayah kerjanya," tambah Ruandha.
TMC sendiri sudah dilakukan tahun ini dengan kapasitas 27 sorti. Sebanyak 21 ton garam ditaburkan dalam proses tersebut untuk menurunkan hujan.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono mengatakan hal serupa. Ia mendorong pihak korporasi untuk turut bertanggung jawab dalam pencegahan karhutla.

"Biaya TMC cukup besar, jadi harus dilakukan pada area prioritas yang terjadi karhutla berulang selama lima tahun terakhir. Sehingga lokasi turunnya hujan buatan hasil penyemaian awan bisa mencegah karhutla," ujarnya keterangan pers pada situs resmi KLHK, Selasa (28/4).

Berdasarkan data rekapitulasi karhutla pada situs SiPongi KLHK, luas lahan yang terbakar sampai pertengahan tahun 2020 ini mencapai 8.253 hektare. Rinciannya paling luas terjadi di Riau dengan 2.765 hektare terbakar, disusul Papua Barat dengan 1.419 hektare, Kalimantan Barat 770 hektar dan Kalimantan Tengah 725 hektare.

Sedangkan pada 2019, luas lahan yang terbakar mencapai 1.649.258 hektare. Angka ini melesat tinggi dari angka karhutla sejak tahun 2016. Namun belum melebihi luas karhutla tahun 2015, yakni 2.611.411 hektare.

Sumatera Selatan jadi lokasi dengan luas karhutla tertinggi di 2019, yakni 336.798 hektare. Disusul Kalimantan Tengah dengan 317.749 hektare, dan Kalimantan Barat 151.919 hektare. Sedangkan 90.550 hektare lahan terbakar di Riau tahun lalu. Di Jambi, lahan terbakar seluas 56.593 hektare. (fey/ain)

[Gambas:Video CNN]