"Kartu Prakerja sudah bergeser dari tujuan awalnya karena sudah menjadi ladang proyek," kata Mufida dalam keterangannya, Kamis (30/4).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyatakan Program Kartu Prakerja perlu dihentikan demi perbaikan sistem agar bisa berjalan lebih jelas, adil dan transparan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanyakan ke beliau (Menko Airlangga) kenapa harus dipaksakan melaksanakan Program Kartu Prakerja? Padahal jadi ladang proyek," ujar Mufida.
Mufida pun mengingatkan bahwa hal yang diperlukan di tengah kondisi banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan seperti saat ini adalah bantuan sosial langsung agar masyarakat bisa bertahan di masa krisis Covid-19.
"Jutaan pekerja kehilangan pekerjaaan atau dipotong gajinya karena terdampak Covid-19. Sungguh tak terlihat internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pengelolaan Program Kartu Prakerja," ungkap dia.
Untuk diketahui, secara keseluruhan, pemerintah akan menyalurkan kartu prakerja kepada 5,6 juta orang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) serta pekerja informal yang pendapatannya tertekan akibat penyebaran virus corona.
Total anggaran yang dialokasikan untuk Program Kartu Prakerja sebanyak Rp20 triliun. Dana itu digunakan untuk biaya pelatihan sebesar Rp5,6 triliun, dana insentif sebesar Rp13,45 triliun, dana survei Rp840 miliar, dan dana project management office (PMO) Rp100 juta. (nva)