Walhasil, mereka tetap mampu menyediakan kebutuhan hidup di saat pandemi Virus Corona.
Emmy Primadona, Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI, mengatakan masyarakat di lima desa itu, yakni Sungai Telang, Senamat ulu, Laman Panjang, Lubuk Beringin, dan Sangi Letung, menerapkan skema Hutan Desa hingga mampu mempertahankan tutupan hutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyimpanan karbon dalam kawasan hutan inilah yang menjadi nilai tambah Bujang Raba. Sejak 2018, Bujang Raba masuk pasar karbon sukarela," kata dia, melalui siaran pers, Senin (4/5).
"Secara bertahap paket ini sudah dibagikan ke desa-desa pengelola hutan desa," kata Emmy.
Pada tahap awal kata Emmy, sebanyak 504 paket diserahkan ke Sungai Telang, Senamat ulu, dan Laman Panjang. Sedangkan dua desa lagi, Lubuk Beringin dan Sangi Letung, warganya masih belum memutuskan penyaluran dana karbon.
Masing-masing paket berisi beras, telur, minyak dan lainnya tergantung dari permintaan masing-masing desa. Untuk mengurangi kerumunan pembagian sembako dilakukan per jorong di masing-masing desa.
Warga pamer paket sembako hasil perdagangan karbon. (dok. KKI WARSI) |
Partisipasi Warga
Sejak 2013, KKI Warsi tertarik mengembangkan perdagangan karbon, atau disebutnya sebagai 'menjual angin', lewat model Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) di level komunitas atau community carbon.
Kegiatan ini dilakukan untuk melihat peran masyarakat memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus untuk mengetahui bagaimana pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) bekerja.
Sejalan dengan itu, di tingkat masyarakat dilakukan penggalian aspirasi dan penguatan kesepakatan pengelolaan kawasan hutan berkelanjutan. Seluruh kegiatan diukur kinerjanya oleh pihak ketiga dengan melakukan verifikasi dan validasi lapangan sampai kemudian Warsi memiliki akun di Carbon Market.
Di carbon market, Bujang Raba ditawarkan ke berbagai pihak mulai 2015. Namun, tidak mudah menemukan pembeli, apalagi di tengah regulasi yang belum memihak masyarakat.
Proyek perdana ini, katanya, baru menemukan pembeli pada 2018 melalui jasa broker atau makelar. Emmy menerangkan jasa broker diperlukan untuk melakukan survei kelayakan lokasi.
Foto: CNN Indonesia/Anggit Gita Parikesit |
Dananya dimanfaatkan langsung untuk mendukung kegiatan layanan kesehatan dan pendidikan (paket beasiswa), penguatan institusi Hutan Desa di lima desa dalam kawasan Bujang Raba serta peningkatan ekonomi masyarakat dan biaya operasional pengamanan kawasan. Selanjutnya pasar karbon terus bergulir dan pembelian tahap berikutnya juga berjalan.
"Saat ini sedang dalam proses penggalian pada masyarakat untuk distribusi manfaat dana karbon yang terkumpul. Tentu harapannya, dana karbon ini bisa dirasakan manfaatnya oleh 1.259 rumah tangga yang menggantungkan hidup dan mata pencaharian mereka pada alam melalui agroforestry berkelanjutan," urainya.
Emmy bercerita masih banyak pertanyaan dari masyarakat bagaimana mungkin hutan yang tumbuh di sekitar mereka bisa menghasilkan uang tanpa mengganggu hutan mereka.
"Bagaimana mungkin menjual angin? Pakai apa membawa anginnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat menjadi pertanyaan masyarakat ketika pasar karbon sukarela mulai berjalan," kata dia.
Program ini, katanya, sejalan dengan pelaksanaan program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), yang mulai digagas sejak Konferensi Perubahan Iklim (COP) 13 di Bali.
REDD+ merupakan upaya untuk memberikan insentif keuangan dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Salah satu bentuknya adalah perdagangan karbon.
Aksi long march aktivis lingkungan di Car Free Day dengan Deklarasi Darurat Iklim, di Jakarta, Minggu (23/2). (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Ketika hutan yang dipelihara dengan baik oleh masyarakat desa ini, ini memperlihatkan ketiadaan deforestasi dan degradasi hutan.
Dikutip dari buku Mari Berdagang Karbon! yang diterbitkan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), perdagangan karbon ini sendiri dimulai sejak Protokol Kyoto 1997. Bahwa, ada mekanisme fleksibel bagi negara atau industri penghasil emisi untuk melakukan pembayaran kepada pihak yang bisa mengurangi emisi.
Pada umumnya, proyek-proyek rendah emisi karbon atau gas rumah kaca itu dilakukan oleh negara-negara berkembang. Nilai penurunan emisi itu sendiri diukur oleh instansi tertentu di masing-masing negara dengan hasil berupa kredit karbon.
Bujang Raba sendiri merupakan salah satu proyek REDD masyarakat Indonesia pertama dengan kegiatan mitigasi yang menyimpan 670.000 ton karbon dioksida (tCO2) dengan mencegah deforestasi dalam kurun waktu sepuluh tahun (2014-2023).
Dalam proyek REDD+, desa-desa di Bujang Raba berkomitmen melindungi 5.336 hektare hutan primer dari konversi ke non-hutan. Dengan menjaga hutan itulah warga menemukan rejekinya sendiri.
"'Menjual angin' itu pun kini menjadi nyata," pungkas Emmy. (epu/arh)
Warga pamer paket sembako hasil perdagangan karbon. (dok. KKI WARSI)
Foto: CNN Indonesia/Anggit Gita Parikesit
Aksi long march aktivis lingkungan di Car Free Day dengan Deklarasi Darurat Iklim, di Jakarta, Minggu (23/2). (CNN Indonesia/Andry Novelino)