Program cetak sawah yang digadang untuk mengantisipasi krisis pangan dan kekeringan itu juga dinilai tak efektif. Bahkan, berisiko tinggi karena ancaman gagal panen. Kementerian pertanian menyebutkan saat ini sedang menyiapkan tambahan lahan baru seluas 400 ribu hektare di lahan gambut dan 200 ribu hektare di lahan kering. Nantinya lahan itu akan ditanami beragama tanaman, termasuk padi.
Kepada CNNIndonesia.com, Kepala Tim Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Rusmadya Maharudin mengkritik rencana cetak sawah itu, karena menurutnya akan merusak ekosistem di lahan gambut. Padahal selama ini lahan gambut sangat penting untuk membantu pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia khawatir langkah mencetak sawah baru di atas lahan gambut justru bakal mengganggu fokus pemerintah merestorasi gambut. Pasalnya untuk membangun sawah harus dibangun kanal-kanal yang bisa berpotensi membuat gambut kering.
Pihaknya menginginkan pemerintah membuat kebijakan yang satu arah dalam rangka mengantisipasi karhutla tahun ini. Menurutnya kebijakan membangun sawah dan upaya membasahi gambut dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) justru bertolak belakang.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berencana melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan membuat hujan buatan di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan bulan ini, Mei 2020.
"Jangan sampai misalnya ada double kebijakan, di satu sisi mau restorasi. Tapi di sisi lain mau membuka peluang potensi degradasi terhadap gambut," tambahnya.
Kebakaran hutan dan lahan di Palembang, Sumatera Selatan. (CNN Indonesia/Hafidz) |
"Proyek mencetak lahan sawah baru tidak tepat untuk mengatasi krisis pangan saat ini. Jika dilakukan secara tergesa-gesa, proyek pencetakan lahan sawah baru yang memakan modal besar ini malah menimbulkan risiko gagal panen yang merugikan petani dan risiko kerusakan lingkungan yang lebih besar," kata peneliti CIPS, Felippa Ann Amanta.
Hal ini, katanya, didukung pengalaman dari proyek pengembangan lahan gambut satu juta hektare pada era mantan Presiden Soeharto. Felippa mengatakan dari pengalaman itu, menunjukkan lahan gambut tidak cocok untuk menanam padi.
Ia menilai rencana ini juga bisa mengancam ekosistem sekitar lahan gambut. Yang pada akhirnya membuka resiko kerusakan lingkungan.
Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK sebagai salah satu pelaksana kegiatan TMC belum menjawab konfirmasi CNNIndonesia.com. Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK juga belum menjawab konfirmasi CNNIndonesia.com terkait kemungkinan kerusakan lingkungan pada rencana pembangunan sawah.
Kepala Bagian Badan Restorasi Gambut Nazir Fuad mengatakan risiko terjadi karhutla karena pembangunan sawah di lahan gambut kecil.
"Risiko karhutla lebih rendah, karena lahan gambut yang tadinya semak belukar dan terlantar menjelma menjadi lahan pertanian produktif yang akan dijaga petani. Pertanian tanpa bakar tentunya harus diadopsi oleh petani," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.
Nazir mengatakan rencana ini mengharuskan kebasahan lahan gambut tetap terjaga. Dan pembangunan sawah juga diprioritaskan di lahan gambut yang sudah rusak dan sudah punya kanal.
Menurut kajiannya di lapangan, pembangunan sawah memungkinkan dilakukan di lahan gambut dengan ketebalan di bawah satu meter, sudah terbuka dan bekas terbakar, serta tidak jauh dari sungai.
"Walau secara ekonomi harus dihitung baik-baik. Percobaan kami di 86 hektar sawah di lahan gambut tipis bekas terbakar di Kalteng. Belum mendapatkan hasil panen yang memuaskan, masih di bawah tiga ton per hektar dar target empat ton," jelasnya.
Pihaknya merekomendasikan diversifikasi tanaman untuk ketahanan pangan. Misalnya dengan menanam sagu, gemor, nipah, atau jagung di lahan gambut.
Cetak sawah, lanjut Nazir, bisa dijadikan salah satu bentuk restorasi pada gambut tipis. Namun berbeda halnya dengan restorasi gambut dengan ketebalan di atas tiga meter.
Nazir mengatakan pada gambut tebal kebasahan harus dijaga dan ditanam dengan tanaman yang tahan kebasahan, seperti sagu. Pembangunan sawah di lahan gambut ini bisa meningkatkan resiko kebakaran.
Kebakaran hutan dan lahan di Palembang, Sumatera Selatan. (CNN Indonesia/Hafidz)