Ia menyarankan peran kepala desa setempat untuk aktif melakukan pendataan dan memproses warga yang berhak mendapatkan bansos dalam masa pandemi ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"KTP di kami banyak inden, kami dibatasi setiap bulan jumlah KTP, pernah hanya dijatah 500 lembar per bulan padahal kebutuhan 10.000 lembar per hari," kata Ade dalam sebuah diskusi daring yang sama.
Ade mengaku bimbang dengan situasi seperti itu. Pasalnya, kata Ade, pihaknya khawatir jika tetap diberikan, akan ada temuan penyalahgunaan bansos.
Ade menilai para perantau sejatinya sedang di situasi yang sangat sulit. Pasalnya, mudik dilarang dan mereka sebagian banyak yang kehilangan pekerjaan imbas bencana non-alam ini.
Bupati Bogor Ade Yasin. (CNNIndonesia/Feri Agus Setyawan) |
Oleh karena itu, menurutnya Pemerintah Pusat akan mengusahakan situasi ini agar warga rentan tidak berlarut-larut dipersulit mendapatkan bansos.
"Kemarin saya diskusi dengan teman-teman kita kelompok gabungan dari saudara kita yang dari luar Jakarta bekerja di Jabodetabek. Mereka pasti tidak punya KTP setempat, kesulitan mereka dia tidak dapat bansos karena mereka enggak punya KTP," ujar Moeldoko.
"Di situ kepala desa harus menyatakan bertanggung jawab atas itu. Kalau tidak, ya kasihan juga memang, hanya karena persyaratan itu terus mereka tidak dapat apa-apa. Ini masukan akan saya konsultasikan ke Kemensos solusi seperti apa," imbuhnya.
"Kalaupun yang masih belum dapat bantuan, dana desa 30 persen bisa mengover bagi mereka-mereka yang belum mendapatkan," kata mantan Panglima TNI tersebut. (khr/kid)
Bupati Bogor Ade Yasin. (CNNIndonesia/Feri Agus Setyawan)