"Ada persoalan-persoalan baru yang dihadapi daerah. Ada PMI (Pekerja Migran Indonesia), ada ABK (Anak Buah Kapal), ada Jamaah Tabligh, ada saudara kita yang overstay, ini akan kembali ke Indonesia jumlahnya cukup banyak," kata Moeldoko dalam sebuah diskusi daring, Senin (11/5).
Situasi kepulangan itu dikhawatirkan dapat menciptakan transmisi persebaran virus baru yang patut diberikan upaya preventif. Oleh karena itu, pemerintah akan terus memperketat dan memberlakukan protokol kesehatan ekstra terhadap para WNI dari luar negeri di setiap bandara, pelabuhan hingga akses lintasan darat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan itu muncul sebagai respons kekhawatiran dari Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan sebagian besar para Kepala Daerah terkait Peraturan Kementerian Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian transportasi selama masa mudik Idul Fitri tahun 1441 Hijriah.
"Kami dari daerah sangat merasa hadirnya pemudik di daerah kami membuat persoalan covid-19 tidak akan pernah selesai. Dari jumlah positif itu semuanya 41-an adalah impor dari luar selebihnya transmisi lokal," ucap Irwan dalam diskusi daring yang sama.
[Gambas:Video CNN]
Sehingga Moeldoko kembali menegaskan relaksasi mudik tidak akan terjadi, namun lebih dari itu, kepala daerah harus mengencangkan sabuk untuk menghadapi gelombang baru dari repatriasi.
"Sangat dipastikan tidak ada kebijakan melonggarkan mudik, sama sekali tidak ada. Mudik tetap dilarang. Tetapi sekali lagi kita akan menghadapi gelombang orang-orang yang bekerja di luar negeri, itu nanti akan pulang dengan jumlah cukup besar," jawab Moeldoko.
(khr/sfr)