Terlebih, ada penurunan pemakaian alat kontrasepsi atau pelayanan Keluarga Berencana (KB) selama pandemi Corona. Sementara, jumlah pasangan usia subur mencapai 52 juta.
"Kalau seandainya jumlah kelahiran dan kehamilan bertambah, beban BPJS [Kesehatan] besar. Artinya ini konsekuensinya besar. Karena sekarang ini orang hamil dan melahirkan itu banyak ditanggung BPJS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (12/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini, lanjutnya, bisa terjadi jika jarak kehamilan dari kehamilan yang sebelumnya tak sampai dua tahun. Untuk menghindari komplikasi, ia menyarankan jarak kehamilan seseorang lebih dari itu.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
Namun, ia mengingatkan bahwa angka kehamilan maupun kehamilan tak diinginkan yang dicatat pihaknya merupakan kehamilan dalam pernikahan. BKKBN, katanya, tak mencatat angka kehamilan pranikah.
Untuk itu, menurutnya, pelayanan KB bagi pasangan yang tidak berencana mempunyai anak jadi penting. Hasto mengatakan dari rata-rata 100 pasangan usia subur yang tidak pakai alat kontrasepsi, setidaknya 15 bisa hamil.
Pihaknya juga sudah mengupayakan penyaluran Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas bidang ini agar bisa mengunjungi masyarakat untuk memberikan pelayanan kontrasepsi.
Sebelumnya, BKKBN menyatakan angka pemakaian alat dan obat kontrasepsi menurun pada bulan Maret dibandingkan Februari 2020 di seluruh Indonesia. Hal ini meningkatkan kekhawatiran ledakan jumlah penduduk atau baby boom.
Penurunan ini ditaksir berhubungan dengan pandemi Corona. Hasto menyatakan banyak akseptor KB yang khawatir terpapar ketika mengakses layanan KB.
[Gambas:Video CNN]
(fey/arh)
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian