Tito mengatakan hal itu ia ketahui dari dua penelitian asal China. Meski begitu Tito tidak menjabarkan judul, nama peneliti, dan literatur penelitian yang ia kutip.
"Penelitian di China, dua tim, sekarang dikonfirmasi oleh Amerika Homeland Security Kepala Research and Development, dia (virus corona) tidak kuat dengan ultraviolet," kata Tito dalam pidato yang disiarkan langsung akun Instagram @kemendagri, Selasa (19/5).
Lihat juga:Bersiap The New Normal di Tempat Ibadah |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka kalau orang Indonesia enggak apa-apa, berjemur matahari itu paling bagus. Kita handphone, barang-barang yang dicurigai, taruh saja di sinar matahari," ucapnya.
"Covid ini hanya dua bagian saja, bukan benda mati, bukan juga benda hidup. Makanya saya sedang ikuti kursus di Youtube tentang virologi, biar belajar," ucapnya.
"Maka metodenya cuma dua: menyerang ptotein RNA-nya atau menyerang lapisan lemak," lanjut dia.
Keampuhan ultraviolet dalam melawan corona sempat jadi perdebatan publik. Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian Kimia LIPI, Akhmad Darmawan mengatakan UVC belum tentu bisa membunuh virus corona dan virus lainnya.
"Kalau sinar UVC itu tidak jamin bisa bunuh virus tapi bisa bunuh bakteri. Kalau bisa bunuh virus itu studinya belum banyak lampu UV itu tidak bisa jamin bisa bunuh virus," kata Akhmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (20/3).
Diketahui, virus corona sendiri menjadi wabah pada negara-negara yang memiliki paparan sinar matahari tinggi di garis khatulistiwa. Brasil saat ini menjadi negara dengan jumlah kasus keempat tertinggi di dunia dengan 255 ribu positif corona per Selasa (19/5), sementara Ekuador di posisi ke-22 dengan 33.500 lebih kasus positif corona. Sementara itu, Kolombia yang juga berada di khatulistiwa berada di posisi ke-39 negara jumlah kasus terbanyak dengan lebih dari 16 ribu kasus. (dhf/gil)