Rulyanti (45), seorang ibu rumah tangga di Jakarta Selatan, lebih memilih anaknya tak sekolah ketimbang mengizinkannya beraktivitas di luar jika situasi pandemi Covid-19 belum juga mereda. Ia juga akan melihat kepatuhan institusi pendidikan pada protokol kesehatan.
"Aku enggak bakal kasih sekolah kalau berisiko. Harus lihat dulu di sekolah gimana [situasinya]; pada dempet-dempet enggak, pakai masker enggak. Kalau enggak, kujemput anaknya suruh pulang. Biarin aja enggak sekolah," cetusnya kepada CNNIndonesia.com, belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Derryl (15), sang anak, mengaku sikapnya itu terjadi karena merasa tak nyaman dengan PJJ. Motivasinya menurun karena tidak ada teman belajar.
"Rasanya tiap hari enggak kayak sekolah. Kayak enggak ngapa-ngapain aja. Mau ngerjain tugas tapi enggak ada motivasi. Kalau di sekolah pada ngerjain tugas juga, jadi ngikut," tutur dia yang kini duduk di kelas 3 SMP itu.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Analis kebijakan publik dari Wahana Visi Indonesia, Tira Maya Malino, menilai pemerintah harus mempertimbangkan suara siswa ketika menerapkan kebijakan di tengah wabah. Sebab, pandemi berpengaruh pada capaian pendidikan siswa dan kondisi psikososial.
Survei yang dilakukan Wahana Visi Indonesia terhadap 3.000 anak pada 2 sampai 21 April mengungkap bahwa pandemi membawa pengaruh emosional terhadap siswa.
Banyak siswa yang merasa terisolasi dari relasi pertemanan, takut karena wabah, bosan dengan situasi di rumah, sampai ketegangan relasi keluarga karena dampak ekonomi selama pandemi.
Warga Pendidikan
Kegelisahan siswa dan orang tua siswa itu pun sudah ditangkap oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang mulai berancang-ancang membuka kembali aktivitas sekolah di tengah pandemi Covid-19 mulai Juli atau awal tahun ajaran baru 20020/2021.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid menyatakan pembukaan sekolah bakal dilakukan di daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman Corona. Namun, ia tak menjelaskan daerah mana saja dan kategorinya.
Sekretaris Jenderal Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani pembukaan kembali perguruan tinggi mungkin dilakukan tahun ajaran 2020/2021.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, mengatakan pembukaan kembali sekolah di tengah pandemi harus mempertimbangkan banyak hal, terutama jaminan untuk melakukan aktivitas sosial di sekolah yang aman dari Covid-19.
Tolok ukurnya ialah jumlah kasus baru yang harus menurun signifikan dalam wilayah dan kurun waktu tertentu.
"Paling tidak selama dua bulan. Kemudian setelah kasusnya konsisten menurun, itu baru bisa dilakukan pelonggaran dalam artian untuk instansi pendidikan," ujarnya.
Salah satunya, kata dia, dengan menetapkan standar jumlah siswa dalam satu ruangan berdasarkan luas ruang kelas.
Mengutip data dari Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, per 19 Mei, ada 220.098 sekolah jenjang SD, SMP, SMA, SMK, SLB yang beroperasi di Indonesia.
Jumlah siswa yang tertampung adalah 44.621.547 peserta didik, dengan 2.720.778 guru, dan 657.444 tenaga kependidikan.
Pada jenjang pendidikan tinggi, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi mencatat sebanyak 4.621 lembaga pendidikan tinggi pada 2019. Ini termasuk universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, akademi komunitas, dan politeknik.
Mendikbud Nadiem Makarim sempat menyerahkan pola pengajaran siswa selama pembelajaran jarak jauh kepada guru tanpa memberikan kurikulum khusus pandemi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Artinya, dunia pendidikan menyumbang jumlah masyarakat yang masif. Karena itulah, Laura menilai standar pemangkasan jumlah siswa penting. Apalagi mengingat usia anak, remaja dan produktif, yang mendominasi sektor pendidikan, yang bisa jadi pembawa virus paling efektif.
Sistem Sif
Nihan, guru SMA Negeri 3 Seluma, Bengkulu, mengusulkan sistem sif jika kegiatan belajar sudah digelar di sekolah. Bentuknya, pembagian gelombang jadwal masuk siswa.
Namun, ia menyarankan harus ada modifikasi materi pembelajaran agar tak menambah jam kerja guru. Sebab, Nihan mengaku tak memungkinkan mengajar dua kali lipat dari biasanya.
Pemerintah pun, kata dia, harus memetakan kembali materi pelajaran yang bisa dipangkas lewat kurikulum pandemi. Dan hal ini tak bisa begitu saja diserahkan ke masing-masing sekolah.
"Pemerintah pusat, Kemdikbud, jangan hanya memberikan, 'ya silakan buat inovasi sendiri'. Enggak bisa, tetap harus ada pedoman yang dibuat oleh Kemdikbud," tutur dia.
Senada, pengamat pendidikan sekaligus Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalil, mengingatkan skenario new normal di dunia pendidikan mesti didukung dengan kesiapan sumber daya, termasuk anggaran.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Ia memperkirakan protokol new normal di dunia pendidikan ini bisa memakan biaya besar.
"Kapasitas [siswa dalam satu kelas] jadi separuh atau mungkin sepertiga. Kemudian dikompensasi apakah di double-shift atau kelas ditambah. Itu beban biaya semua," ujar Fasli, yang merupakan mantan Wakil Pendidikan dan Kebudayaan itu.
Edaran
Merespons rencana pembukaan kembali sekolah itu, Kemendikbud mengeluarkan Surat Edaran No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Isinya, terkait sejumlah protokol dan prosedur aman saat sekolah kembali buka.
Ketiga, pihak sekolah secara rutin diminta memantau kondisi kesehatan warga sekolah terkait gejala penyakit Corona. Keempat, sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan pakai sabun.
Kelima, penerapan protokol kesehatan lainnya seperti jaga jarak dan melakukan etika batuk dan bersin yang benar. Keenam, sekolah diminta membuat narahubung terkait keamanan dan keselamatan di lingkungannya.
Namun, surat edaran itu tak merinci teknis pembagian kegiatan belajar mengajar agar tercipta jarak sosial aman, seperti sistem sif atau giliran.
[Gambas:Video CNN]
Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid mengatakan pihaknya masih memetakan prosedur teknis pembukaan kembali sekolah. Ini termasuk soal kemungkinan gelombang jadwal masuk bakal dibagi untuk memastikan jaga jarak.
Sejauh ini, jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia per Rabu (20/5) mencapai 19.189 kasus. Sebanyak 4.575 orang dinyatakan sembuh, dan 1.242 orang lainnya meninggal. Kurva Corona pun belum menunjukkan tanda-tanda menurun.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian
Foto: CNN Indonesia/Fajrian