Saat hujan turun, nenek dan anaknya harus mencari bagian rumah yang tak bocor untuk berteduh. Sang nenek tidur di dapur rumah, bersama kompor tungku. Kamar mandi Sumi tanpa pintu, terhubung langsung dengan dapur.
Sumi mengeluh sudah tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsosratu), Program Keluarga Harapan (PKH) hingga Bansos Tunai (BST) ditengah pandemi covid-19 ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau makan seketemu aja, ada yang ngasih aja dari tetangga," kata Nenek Sumi ditemui di kediamannya, Selasa (26/5).
Kaki kirinya di gigit ular tanah satu tahun lalu saat berkebun. Akibat tidak ada biaya, diobati alakadarnya. Beruntung Darwin tidak sampai meninggal. Namun kini, kaki nya menghitam, untuk berjalan harus menggunakan penopang dari kayu yang dia buat sendiri.
Nenek Sumi (83) dan anaknya Darwis (40) tak bisa merayakan lebaran seperti warga lainnya karena belenggu kemiskinan (CNN Indonesia/Yandhi). |
Jika tak ada makanan untuk di masak, Nenek Sumi dan Darwin hanya bisa pasrah sembari menunggu bantuan. Beruntung, dia kerap mendapatkan bantuan sembako dari personel TNI Korem 064/Maulana Yusuf.
"Alhamdulillah aja dapet sembako dari Pak TNI," jelasnya.
Di lokasi yang sama, Bakriah (74) yang rumahnya tepat di belakang rumah Nenek Sumi, juga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.
Nenek Bakriah bercerita bahwa dia dan beberapa warga lainnya sempat diminta mengumpulkan foto kopi KTP dan Kartu Keluarga (KK), namun hingga kini belum ada tindaklanjutnya.
"Didata mah didata, sensus, ditempel (stiker), masak enggak didata. Waktu bulan lalu ngumpulin KK, KTP. Iya katanya mau dapat (bantuan), Alhamdulillah belum," kata Nenek Bakriah, ditempat yang sama, Selasa (26/5). (ain/ynd/ain)
Nenek Sumi (83) dan anaknya Darwis (40) tak bisa merayakan lebaran seperti warga lainnya karena belenggu kemiskinan (CNN Indonesia/Yandhi).