Ade menyampaikan permintaan maaf kepada PP Muhammadiyah berkaitan dengan unggahan di akun media sosial facebook yang dianggap telah mendiskreditkan organisasi tersebut terkait diskusi dengan tema pembahasan soal pemakzulan presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia juga mengaku heran lantaran MAHUTAMA secara gegabah malah menggelar acara yang justru bisa merusak nama baik Muhammadiyah. Meski begitu dia mengaku lega bahwa PP Muhammadiyah sendiri memang menolak acara diskusi tersebut.
"Saya bersedia mencabut pernyataan saya dan meminta maaf kepadanya, selama dia juga menjelaskan kepada publik mengapa dia, melalui media massa, menuduh pemerintah bergembira di atas rakyat yang menderita di tengah pandemic Covid-19 karena BPIP menyelenggarakan konser virtual penggalangan dana," kata Ade.
Kata Ade, pernyataan dungu yang dia tuduhkan kepada Din sebenarnya merujuk pada tudingan Din kepada pemerintah yang menganggap pemerintah bergembira karena menggelar konser. Padahal konser itu digelar untuk menggalang dana bantuan Covid-19.
Pernyataan ini adalah soal tiga syarat yang bisa dipenuhi untuk memakzulkan seorang pemimpin.
Din juga menyatakan pemakzulan pemimpin sangat mungkin dilakukan apabila terjadi kepemimpinan represif hingga cenderung diktator.
"Saya menganggap pandangan Din bahwa sudah terpenuhi syarat-syarat untuk memakzulkan Presiden adalah pandangan yang dungu," kata Ade.
"Namun, saya juga bersedia mencabut anggapan bahwa Din adalah tokoh yang 'dungu', bila PW Pemuda Muhammadiyah Jateng bisa menjelaskan apa yang dimaksud oleh pernyataan Din Syamsudin tersebut," jelas Ade.
"Saya menghargai kebebasan setiap warga negara untuk menyampaikan pandangan politiknya di negara ini. Saya hanya menyatakan bahwa isu pemakzulan Presiden digulirkan Muhammadiyah, mengingat MAHUTAMA menggunakan kata Muhammadiyah dalam nama resminya," kata Ade. (tst/bac)