Faisal Basri Kritik Suntikan Uang Rp152 T ke BUMN

CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 07:16 WIB
Pengamat Ekonomi Politik, Faisal Basri saat sesi diskusi di Jakarta, Rabu, 27 September 2017. CNNIndonesia/Safir Makki Ekonom Faisal Basri curiga stimulus ratusan triliun ke BUMN digelontorkan untuk menutupi borok pengelolaan perusahaan pelat merah oleh pemerintah. CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menyebut anggaran stimulus ekonomi menekan dampak pandemi virus corona (Covid-19) lebih banyak digunakan untuk menutup kesalahan pemerintah dalam mengelola BUMN.

Dia mencatat dari Rp405,1 triliun anggaran untuk penanganan pandemi corona, Rp152,15 triliun di antaranya digunakan untuk menyuntik BUMN. Padahal awalnya pemerintah menyebut dana itu digunakan untuk stimulus UMKM dan dunia usaha.

"Di belakang itu adalah menutup borok-borok yang telah dilakukan pemerintah selama ini lewat BUMN. Bayangkan kalau BUMN gagal bayar, tidak bisa melanjutkan proyek-proyek yang dibebankan kepada mereka, hancur lebur," kata Faisal dalam webinar yang diselenggarakan Kahmipreneur, Senin (1/6).


Faisal mengatakan Rp25,27 triliun dikucurkan ke enam BUMN sebagai penyertaan modal negara (PMN). Enam BUMN yang dinaksud adalah PT PLN (Persero), PT Hutama Karya (Persero), PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), PT Permodalan Nasional Madani, dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero).

Kemudian sebanyak Rp94,23 triliun lainnya dikucurkan ke tiga BUMN lewat skema pembayaran kompensasi. Uang itu digelontorkan ke PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan Perum Bulog.

Sementara Rp32,65 triliun diberikan lewat dana talangan investasi ke enam BUMN. Mereka adalah Perum Bulog, PT Garuda Indonesia Tbk, PTPN, PT Kereta Api Indomesia, PT Krakatau Steel Tbk, dan Perum Perumnas.

Faisal menduga sebagian dana suntikan itu dipakai untuk membayar utang BUMN. Dia mencontohkan kucuran Rp650 miliar untuk Perumnas.

Jumlahnya sama dengan utang yang jatuh tempo dari perusahaan perumahan pelat merah itu. "Disiplin fiskal kita jadi kacau. Jadi untuk menopang proyek-proyek strategis nasional, tidak hanya APBN, tapi juga dibebankan ke BUMN melebihi dari kemampuannya," ucapnya.

Faisal menilai pengucuran dana-dana itu tidak tepat. Apalagi dengan dalih dampak ekonomi corona.

Sebab menurutnya banyak sektor lain yang lebih butuh perhatian karena dampak pandemi. Salah satunya, sektor tanaman pangan yang pertumbuhannya anjlok -10,31 persen.

"Saya ingin bertanya kepada kita semua, negara kita mau dibawa ke mana? Berikutnya adalah sebetulnya ini semua tidak ada hubungannya dengan covid," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

(dhf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK