"Ada kenaikan kehamilan baru selama pandemi, jumlah angka pasien yang berkunjung menurun namun kehamilan baru yang meningkat, [peningkatan] 7,5 hingga 10 persen," ujar Dokter spesialis kandungan dan kebidanan RSIA Cahaya Bunda, Yasmin Darmawan, dikutip dari siaran CNNIndonesia TV, Rabu (3/6).
Menurut Yasmin, sebelum terjadi penyebaran virus corona, biasanya RSIA Cahaya Bunda menangani rata-rata kisaran 1.400 pasien per bulan. Dari angka itu, 70-75 persen atau 1.000 orang merupakan pasien ibu hamil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil konsultasi dengan pasien sejauh ini, kehamilan baru meningkat di tengah pandemi virus corona imbas dari kebijakan pemerintah yang menggalakkan bekerja di rumah atau work from home.
"Kalau bisa ketika masih masa kritis [hamil] ditunda dulu. Nanti mudah-mudahan dalam tiga bulan sudah mereda baru," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/5) lalu.
Langkah itu didorong karena BKKBN mencatat setidaknya 10 persen pasangan usia produktif tak memakai alat kontrasepsi pada periode Maret hingga April 2020. Ia menaksir hal ini karena banyak akseptor Keluarga Berencana (KB) yang khawatir terpapar ketika mengakses layanan kontrasepsi.
Lebih lanjut, Hasto mengkhawatirkan kasus kehamilan baru dapat meningkatkan beban ekonomi negara maupun individu. Belum lagi mengingat ancaman peningkatan angka stunting atau kekerdilan, angka kematian ibu dan angka kematian janin jika kehamilan tidak dipersiapkan dengan baik.