Dia mengatakan kala itu Presiden Joko Widodo ingin lebih bansos lebih cepat tersalurkan ketimbang membenahi data penerima terlebih dahulu.
"Kita beri bantuan dulu. Sambil jalan verifikasi," kata Muhadjir dalam diskusi yang dilakukan secara virtual, Selasa (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walhasil, kata Muhadjir, Jokowi menginstruksikan agar bansos disalurkan terlebih dahulu ketimbang melakukan verifikasi ulang data di tingkat kabupaten/kota. Dengan demikian, pemerintah hanya berpegang pada data penerima bansos hasil musyawarah di tingkat desa.
Presiden Joko Widodo lebih memilih penyaluran bansos pada warga terdampak pandemi Covid-19 terlebih dahulu ketimbang verifikasi data penerima (Biro Pers Istana Kepresidenan) |
"Maka kalau sekarang ini ada isu data tidak akurat, salah sasaran itu saya sangat maklum memang ketepatan sasaran pilihan kedua, pertama harus sampai dulu, ter-delivered dulu bantuan-bantuan sosial ini," kata dia.
Diketahui, penyaluran bansos kepada masyarakat terdampak pandemi virus corona (Covid-19) sempat berantakan. Banyak warga yang membutuhkan namun tidak menerima lantaran tidak tercantum dalam data penerima.
"BPS (Badan Pusat Statistik) punya survei sendiri, Kemensos punya survei sendiri, Kementerian Desa juga punya survei sendiri. Itu jadi salah satu masalah di Indonesia yaitu ketidaksinkronan data antara pusat dan daerah," kata Emil mengutip Antara, Kamis (7/5).
Per 30 Mei, Pemerintah pusat mengumumkan telah memberikan bansos kepada 7,21 warga penerima atau 80,2 persen dari total 9 juta penerima. Pemerintah juga berniat memberikan bansos hingga Desember mendatang.
"Pengurangan ini untuk seluruh Indonesia. Sementara hingga kini, Bantuan Sosial Tunai dari Kemensos ini sudah (tersalurkan) mendekati 90 persen (ugo)
Presiden Joko Widodo lebih memilih penyaluran bansos pada warga terdampak pandemi Covid-19 terlebih dahulu ketimbang verifikasi data penerima (Biro Pers Istana Kepresidenan)