Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan selama ini pemerintah sering mengumumkan program bantuan. Namun banyak di antaranya yang tidak tepat sasaran.
"Kami ragu janji tersebut sebab sudah sering rezim sekarang ini melakukan kebohongan publik dengan janji manis, tapi tidak ada realisasinya. Jangan-jangan prank lagi ini?" kata Slamet lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan jadikan bantuan ini untuk membeli idealis kalangan kyai dan santri. Akhirnya kami hanya bisa berdoa semoga tidak prank lagi," tuturnya.
"Jangan sampai bantuan menggunakan politik belah bambu lagi, satu pesantren dianakemaskan sementara pesantren lain diinjak dan dicurigai terus hanya gara-gara pengasuhnya beda pandangan politik," tutupnya.
Keputusan itu dibuat usai beberapa kali pemuka agama mengkritik keras. Ketua Umum PBNU Said Aqil, misalnya. Ia bilang pemerintah tidak pernah menaruh perhatian sama sekali kepada pesantren di era pandemi.
Menurut Said, setidaknya pemerintah membantu penyediaan hand sanitizer, masker, dan protokol kesehatan lain. Lebih bagus jika bisa menambah fasilitas seperti kamar, ruang belajar, dan infrastruktur lain, kata dia.
"Kelihatan sekali pemerintah terus terang tidak melihat nasibnya pesantren," kata Said saat menerima Satgas Lawan Covid-19 DPR RI di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (3/6).
(ain/dhf/ain)