Mereka adalah para perawat dan tenaga administrasi di salah satu rumah sakit swasta di Makassar itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari awal berjuang sama-sama, sedianya terus berjuang sama-sama juga saat ini. Karena kami tidak dilibatkan akhirnya 157 orang dirumahkan tanpa kompensasi apapun. Kami minta, kami tetap diakomodasi, tidak dirumahkan. Pihak yayasan harus transparan, jika keuangan hanya Rp200 juta, itu saja dibagi. Kami tidak menuntut lebih karena pahami kondisi sekarang. Hanya 15 hari kerja dalam sebulan juga bisa," kata Ilham Tompo.
Lihat juga:Bakamla Ungkap China Kian Provokatif di LCS |
"Tapi komitmen kami, mereka akan dipanggil kembali saat kondisi mulai membaik. Diharapkan teman-teman bersabar. Kita semua berdoa agar situasi pandemi corona ini segera berlalu," ujarnya.
Dijelaskan, terjadi penurunan jumlah kunjungan pasien yang sangat signifikan sehingga memengaruhi perputaran uang. Pihak yayasan pun akhirnya memutuskan kebijakan merumahkan para karwayan mereka.
Sebelumnya, kata Andi Aan, RSI Faisal termasuk rumah sakit penyangga dari 42 rumah sakit yang ditunjuk pemerintah sebagai rumah sakit penyangga dan rumah sakit rujukan pasien Covid-19.
"Memang saat ini tidak merawat lagi pasien Covid-19. Kalaupun ada pasien umum yang terindikasi, langsung dirujuk. Hanya saja, masyarakat terlanjur takut ke rumah sakit lagi. Sebelum ada wabah, dalam sebulan itu kunjungan pasien mencapai 3.000 orang, kini stagnan di angka puluhan orang saja per bulan," ujar Andi Aan.
Saat ini, Andi Aan menerangkan setiap pasien umum yang terindikasi kuat mengarah ke Covid-19 langsung dirujuk ke RS rujukan. Namun, masyarakat telanjut takut mendekat ke rumah sakit. Akibatnya, jumlah kunjungan pun menurun signifikan.
"Kondisi ini mempengaruhi cash flow keuangan karena yang namanya rumah sakit swasta itu berharap dari asuransi, BPJS, dan pasien umum," pungkas Andi Aan Mustaman. (svh/bac)