"Itu tidak boleh [ponpes dibuka], maka dari itu Pimpinan Daerah harus mengendalikan semua itu, kalau tidak nanti kasusnya akan naik. Clear, Ponpes kan pendidikan, belum boleh," ujar Wiku dalam tayangan Mata Najwa yang disiarkan di Trans7, Rabu malam (10/6).
Menurut Wiku, sektor pendidikan tidak perlu buru-buru segera dibuka. Baik di daerah yang masih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mau pun yang sudah menuju new normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku tidak akan terburu-buru membuka kembali kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. Ia juga tak segan kembali menutup Sekolah yang kedapatan membuka aktivitas sekolah dalam PSBB Transisi DKI Jakarta ini.
"Bahkan jangankan ke Sekolah, sekarang untuk ke Ragunan saja tidak boleh anak-anak, kami tidak mengizinkan," kata Anies.
"Artinya kepedulian kepada anak-anak itu di dalam wujud aturan bukan sekadar pernyataan. Aturannya begitu, tiga kelompok: anak, ibu hamil, dan lansia," tambahnya.
Seperti dua Ponpes di Jawa Timur, al-Falah Ploso dan Lirboyo, Kediri. Salah satu pengurus Pesantren al-Falah Ploso, M Ma'mun Mahfud mengatakan pihaknya saat ini tengah mempersiapkan hal-hal yang menjadi panduan new normal dalam proses pembelajaran. Pesantren al-Falah rencananya baru akan memulai proses pembelajaran awal Juli nanti.
Sementara Pesantren Lirboyo Kediri, Abdul Muid Shohib berencana membuka kembali pada 20 Juni mendatang. Muid menyampaikan, proses kedatangan santri sebelum dimulainya proses belajar mengajar di pesantren akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, dari sekitar 28 ribu santri pesantren Lirboyo, hanya ada sekitar 10 persen atau sekitar 2.500 santri yang akan kembali ke pesantren.