Dalam insiden tersebut, satu orang anak buah kapal (ABK), Deni (31) tewas. Selain itu, seorang ABK, Rio Pangestu (23) masih hilang, dan 28 orang lainnya selamat.
"Peristiwa itu terjadi pada Selasa (9 Juni) di perairan laut Aru atau tepatnya 6.49.500 Lintang Selatan (LS), dan 133.217.700 Bujur Timur (BT)," kata Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Eko Budiarto saat dihubungi CNN Indonesia,com, Kamis (11/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga secara kemanusiaan kami utamakan dulu untuk korban, mencari pakaian, pengobatan dan logistik sebab mereka kesulitan pascakebakaran melanda kapal mereka," ujarnya.
Lebih lanjut, Eko menyebut kebakaran KM Anugerah Bahari 05 itu diduga karena arus pendek dari kamar mesin. Saat ini, bangkai kapal naas itu masih terapung di perairan Aru Selatan.
"Mudah-mudahan cuaca di sana membaik supaya bangkai kapal bisa ditarik ke pelabuhan Dobo, Aru maluku," katanya.
"Dikarenakan informasi terlambat dan peristiwa sudah beberapa hari, jadi kami hanya diminta bantuan pemantauan dan pemapelan," kata Muslimin dikonfirmasi terpisah.
Muslimin mengaku menerima laporan pihak perusahaan tengah melakukan pencarian terhadap korban hilang, namun hasilnya nihil lantaran ombak besar mengusai perairan Tanjung Lelar, Aru Selatan, Maluku.
Nahkoda KM Anugerah Bahari 05, Suherman (50) mengungkapkan kapal tersebut terbakar sekitar pukul 10.30 WIT Selasa 9 Juni. Saat itu, para ABK sedang tidur.
Menurutnya, kapal nelayan yang berada di sekitar lokasi kejadian langsung mengevakuasi para ABK yang melompat untuk menyelamatkan diri.
"Setelah dievakuasi dan didata, ternyata satu meninggal dan satu hilang," kata Suherman. (sai/fra)