Kondisi itu kerap memunculkan permasalahan kelautan yang kerap terjadi di wilayah perbatasan dengan negara-negara lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui China memang mengklaim wilayah perairan Natuna adalah wilayah milik mereka. Kapal-kapal nelayan China yang bahkan didampingi Coast Guard China berlayar di perairan itu.
Menurut Aan, pemerintah pun kemudian sepakat untuk memberangkatkan 30 nelayan Pantura dengan ukuran kapal 100-150 Gross Tone (GT) berlayar di Natuna dan memanfaatkan sumber daya perikanan di sana. Namun, tak sampai satu bulan para nelayan ini sudah minta pulang ke Pulau Jawa.
"Karena ada Covid-19 kemudian hasil tidak maksimal sehingga belum 30 hari nelayan ini sudah kembali pulang," kata Aan.
Di Natuna sendiri memang banyak nelayan karena sebagian besar mata pencaharian mereka adalah menangkap ikan. Hanya saja, para nelayan ini kata Aan adalah nelayan kecil yang menangkap ikan hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
"Artinya apa? Nelayan kita belum siap untuk melawan nelayan asing yang sebetulnya di situ [Natuna] ada sumber daya ikan lah," kata dia.
Aan pun mengatakan, untuk menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan, ada hal utama yang harus dilakukan. Upaya tersebut terutama harus dilakukan di perbatasan sepertu Natuna yang memang kerap menyulut konflik lantaran banyak negara yang merasa berdaulat di wilayah itu.
Dia menegaskan saat ini sudah bukan saatnya hanya berpikir untuk larang dan cegah seperti terhadap nelayan dari Pulau Jawa yang melaut di sana hingga pembatasan alat tangkap tertentu. Sebaliknya menurut Aaan, Indonesia sudah saatnya memikirkan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya ikan.
"Kita jangan hanya larang dan atur, kita juga harus bisa memanfaatkan, ini yang belum dilaksanakan," kata dia. (tst/bac)