Salah satunya, Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Pantauan CNNIndonesia.com, pasar masih ramai dikunjungi warga untuk berbelanja pada Minggu (14/6) pagi.
Tapi, di pintu utama pasar, tak terlihat satu pun petugas yang bersiaga mengecek suhu tubuh atau meminta pengunjung mencuci tangan sebelum masuk ke pasar. Pedagang juga masih berjualan seperti biasa tanpa ada pengaturan jarak antara satu kios dengan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pasar yang membatasi jam operasional hingga pukul 14.00 WIB sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar itu diterapkan pada Minggu ini masih ramai didatangi warga.
Sama seperti di Lenteng Agung, protokol kesehatan di pasar tradisional ini juga tak diterapkan secara ketat. Tiap pedagang, terutama di luar bangunan blok C Pasar Minggu, berjualan tanpa adanya jarak antar kios.
Namun imbauan hanya sebatas imbauan. Menurutnya, tak pernah ada pemeriksaan dari petugas agar imbauan itu terlaksana, kecuali pada jam-jaman ketika operasional pasar akan berakhir.
"Kalau sudah mau jam 2 siang baru ada yang keliling, itu juga minta supaya lapak ditutup. Tapi ada juga yang bandel masih jualan sampai sore, namanya cari duit," tuturnya.
Tak jauh berbeda dengan dua pasar tradisional tersebut, Unit Pasar Besar (UPB) Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, juga masih beroperasi tanpa ada protokol kesehatan yang ketat. Imbauan jaga jarak minimal satu meter antar pedagang terpantau tak efektif karena tak ada penanda atau garis pembatas.
Berbeda dengan kondisi di bagian luar pasar, mayoritas toko yang berada di bagian dalam Pasar Induk Kramat Jati tutup. Dari pengeras suara di beberapa sudut pasar, terdengar pengumuman dari pengelola bahwa sistem ganjil genap bagi para pedagang baru akan diterapkan mulai Senin (15/6) besok.
Pengelola pasar juga menyampaikan bahwa akan dilakukan rapid test dan swab test gratis kepada para pedagang pada hari Rabu (17/6) pekan depan untuk mengetahui kondisi persebaran Covid-19 di Pasar Kramat Jati.
Ketua Bidang Informasi dan komunikasi Ikatan Pedagang Pasar Transisional Reynaldi Sarijowan menyebut masih dibukanya pasar-pasar tradisional tersebut merupakan bentuk ketidaktegasan pemerintah dalam menekan angka penyebaran Covid-19.
Menurutnya ketegasan diperlukan supaya perilaku pedagang pasar dan pembeli di sejumlah daerah di tengah penyebaran virus corona bisa diperbaiki. Dengan demikian perekonomian terutama pada masyarakat kelas bawah bisa terus bergerak tanpa mengorbankan keselamatan dan kesehatan.
Ia mencontohkan misalnya di beberapa daerah seperti Salatiga dan Padang telah memberikan contoh soal bagaimana penerapan protokol Covid-19 di pasar tradisional yang baik. Operaso pasar dilakukan dengan melakukan physical distancing.
Selain itu, pedagang juga diperiksa. Hasilnya, tak lagi ditemukan kasus positif di pasar-pasar tradisional tersebut.
"Kalau tutup, wah, ampun omset kita sudah turun 62 persen selama 2 bulan ini. Dan pasar tradisional itu untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat menengah ke bawah, karena itu pemerintah harus fokus dalam penerapan protokol kesehatan," katanya. (hrf/agt)