Jubir Covid soal Target Meleset di Jatim: Warga Tak Patuh

CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2020 17:11 WIB
Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menyampaikan laporan perkembangan kasus COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (18/6/2020). Achmad Yurianto menyatakan hingga Kamis (18/6) pukul 12.00, jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia bertambah 1.331 orang sehingga bertotal 42.762 orang sementara jumlah total pasien sembuh menjadi 16.798 orang dan total kasus kematian menjadi 2.339 orang. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. (Antara Foto/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru Bicara Pemerintah Khusus Penanganan Corona Achmad Yurianto menyatakan, banyaknya warga Jawa Timur yang tak patuh dengan protokol kesehatan menjadi pemicu tingginya kasus virus corona (covid-19) di wilayah tersebut. Jatim diketahui menjadi provinsi dengan kasus corona tertinggi di tingkat nasional.

Padahal, kata dia, pemerintah selama ini telah memasok berbagai macam bantuan untuk menekan laju penyebaran virus covid-19 di wilayah tersebut.

"Kenapa masih tinggi karena masyarakat tidak patuh protokol kesehatan, kalau patuh kan enggak mungkin kasusnya nambah," ujar Yuri, sapaannya, saat dihubungi, Rabu (8/7).


Jumlah tes covid-19 yang meningkat, menurut Yuri, bukan menjadi alasan jumlah kasus positif terus naik. Pemerintah provinsi Jatim sebelumnya mengklaim banyaknya kasus covid-19 lantaran jumlah orang yang dites juga meningkat.

"Ya kalau semua patuh, tesnya banyak, kan harusnya hasilnya negatif. Kalau ini berarti penularan  masih terjadi," katanya.

Yuri menuturkan, pemerintah pusat selama ini telah berupaya membantu mengendalikan kasus di Jatim dengan mengirim sejumlah bantuan. Di antaranya mobil laboratorium BSL-2 untuk mempercepat proses testing.

Selain itu, bantuan juga sejak lama dikerahkan berupa Alat Pelindung Diri (APD), obat-obatan, hingga staf maupun relawan dari pusat.

"Apa dikira APD, obat, itu bukan dari pusat semua? Ya pasti bantuan sudah, kan nggak semua bentuknya mobil, yang gede-gede gitu," ucapnya.

Pembangunan RS Darurat di Surabaya, kata Yuri, juga merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Kebutuhan tenda, peralatan, hingga reagen yang digunakan untuk mengetes juga dipasok dari pemerintah pusat.

"Itu tenda punya pusat, alat-alat dari pusat, relawan juga dari pusat, dibiayai pusat, alat reagen untuk periksa juga dari pusat," tutur Yuri.

Kendati demikian, Yuri menekankan bahwa pengendalian covid-19 di Jatim menjadi tanggung jawab pemerintah pusat maupun daerah. Termasuk dalam proses sosialisasi agar warga mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Ini kerja bersama pusat dan daerah. Sosialisasi kan media juga ikut, kalau saya sendiri yang ngomong ya mana bisa," katanya.

Presiden Joko Widodo diketahui memberi target pada Jatim untuk mengendalikan kasus covid-19 selama dua pekan sejak kunjungannya beberapa waktu lalu. Waktu dua pekan itu berakhir 8 Juli 2020, namun kasusnya masih terus naik.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 Jatim, setelah kunjungan Presiden Jokowi pada 25 Juni, kasus positif corona Jatim pada 26 Juni bertambah 363 kasus menjadi total 10.886 kasus.

Kasusnya terus bertambah hingga 6 Juli lalu sebanyak 270 kasus dan 280 kasus pada 7 Juli. Terbaru, pada 8 Juli ini terdapat penambahan 366 kasus sehingga total kasus di Jatim menjadi 14.967 kasus.

(psp/ugo)

[Gambas:Video CNN]