Surabaya Jadi Zona Oranye Corona, Jakarta Masih Zona Merah

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 10:19 WIB
Tiga indikator kesehatan masyarakat di Surabaya membaik dari sebelumnya sehingga ibu kota Jatim itu saat ini berstatus zona oranye covid-19. Kota Surabaya, Jawa Timur berstatus zona oranye covid-19. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat Kota Surabaya, Jawa Timur berubah status dari zona merah atau risiko tinggi menjadi zona oranye atau risiko sedang penyebaran virus corona (Covid-19). Laporan Satgas Covid-19 ini merupakan hasil analisis mingguan per 2 Agustus 2020.

Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan perubahan zonasi di Surabaya disebabkan tiga indikator kesehatan masyarakat yang dinilai membaik dari sebelumnya.

"Ada 15 indikator penilaian, mencakup indikator epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan, dari gabungan seluruh indikator itu kondisinya membaik," kata Wiku saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (10/8).


Wiku mengatakan meski kasus positif di Surabaya masih terus meningkat, namun berdasarkan penilaian epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan justru membaik. Hal itu menyebabkan perubahan zonasi di wilayah Surabaya.

Berdasarkan data yang diakses Senin (8/10) pada laman https://lawancovid-19.surabaya.go.id/visualisasi/graph jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 secara kumulatif di Surabaya sebanyak 9.508.

Dari jumlah itu, sebanyak 6.166 orang sembuh, 814 orang meninggal, dan 2.528 orang dirawat.

Surabaya menjadi penyumbang terbanyak kasus positif virus corona di Jawa Timur yang mencapai 25.330 orang.

Sementara itu wilayah DKI Jakarta mayoritas masih zona merah Covid-19. Berdasarkan data yang sama, empat wilayah masuk zona merah, yakni Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara.

Sementara Jakarta Selatan dan Kabupaten Kepulauan Seribu masuk zona oranye.

Untuk kondisi di Jakarta, Wiku mengatakan ada perubahan penilaian berdasarkan indikator kesehatan masyarakat. Namun Wiku tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai penyebab perubahan zonasi risiko penyebaran Covid-19 di wilayah Jakarta.

"Kalau risiko menjadi tinggi atau menurun itu diakibatkan dari penilaian, termasuk jumlah kasus, testing, semuanya," kata Wiku.

Dari data Satgas Covid-19 per Minggu (9/8), kasus positif virus corona di Jakarta 25.727 orang. Wilayah yang kini dipimpin Anies Baswedan itu kembali menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif terbanyak.

Berdasarkan data pada https://corona.jakarta.go.id/id/data-pemantauan, kasus corona di DKI fluktuatif namun menunjukkan tren peningkatan pada akhir Juli. Lonjakan terjadi pada 29 Juli, dengan tambahan 585 kasus positif.

Kasus positif kemudian menurun hingga akhirnya kembali memuncak pada 6 Agustus bertambah 597 orang, 7 Agustus 658 orang, dan 8 Agustus 721 orang.

Melihat pada data ini, Wiku menekankan perubahan zonasi wilayah tetap ditentukan pada 15 penilaian indikator kesehatan masyarakat. Bukan saja pada peningkatan kasus harian.

"Semua daerah, zonasinya berubah itu pasti diakibatkan seluruh penilaian indikator yang ada ikut berubah, jadi kalau risikonya menjadi lebih tinggi atau menurun, itu karena scoring dari masing-masing penilaian indikator berubah," ujar Wiku.

(mln/fra)

[Gambas:Video CNN]