Pelajaran Sejarah Tak Wajib Kurikulum Baru, Guru Protes

CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 19:18 WIB
Sejumlah guru menolak mata pelajaran Sejarah tak diwajibkan di SMA pada kurikulum baru karena dianggap dapat mengikis identitas bangsa. Ilustrasi. Sejumlah guru menolak mata pelajaran Sejarah tak diwajibkan di SMA pada kurikulum baru karena dianggap dapat mengikis identitas bangsa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah guru menolak mata pelajaran Sejarah tak diwajibkan di jenjang SMA pada kurikulum baru bentukan Mendikbud Nadiem Makariem. Mereka menilai hal ini bisa mengikis identitas bangsa.

Ahmad Sohabudin, guru sejarah di SMA Negeri 1 Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh, mengkritik wacana struktur kurikulum baru yang dipaparkan Kemendikbud. Dalam paparan yang diterima CNNIndonesia.com terdapat beberapa perubahan alokasi mata pelajaran Sejarah di jenjang SMA dan SMK.

Untuk kelas 10, Sejarah akan digabung dengan pelajaran sosial lain menjadi IPS. Sementara di kelas 11 dan 12, Sejarah akan menjadi pelajaran pilihan. Sedangkan di SMK, pelajaran Sejarah dipertimbangkan untuk dihapus.


"Saya sebagai guru sejarah tentunya menolak. Kenapa mata pelajaran Sejarah itu di dalam struktur kurikulum yang baru tidak begitu diprioritaskan?" katanya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (18/9).

Ia mengatakan pelajaran Sejarah sesungguhnya mengandung nilai-nilai kebangsaan yang tak diajarkan di pelajaran lainnya. Karena itu, perannya menjadi penting untuk menjadi mata pelajaran wajib di lingkungan pendidikan.

Menurut Soha, identitas bangsa terbentuk karena masyarakat mengetahui dan memiliki memori kolektif sejarah yang sama.

Ia khawatir jika bobot pelajaran Sejarah dikurangi dalam kurikulum yang baru, ini akan mempersempit wawasan nilai kebangsaan siswa. Sebab menurutnya, tak semua siswa mendapat cakupan ilmu sejarah secara maksimal.

"Itu berbahaya untuk kesatuan bangsa, untuk integrasi bangsa. Kita menjadi sebuah bangsa karena kita punya nilai sejarah yang sama, memori kolektif yang sama," jelasnya.

Guru lainnya, Harris Malikus Mustajab dari SMA Sumbangsih Jakarta mempertanyakan alasan pemerintah memangkas bobot pelajaran Sejarah dalam kurikulum yang baru.

"Saya mempertanyakan itu naskah akademiknya dari mana? Kok, tiba-tiba ada usulan menyederhanakan kurikulum dan yang menjadi korban pelajaran sejarah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Harris mengkritik penggabungan semua pelajaran sosial menjadi IPS untuk siswa kelas 10. Menurutnya, hal ini akan memangkas waktu guru memberikan pemahaman ilmu sejarah kepada siswa.

Ditambah lagi pertimbangan menjadikan Sejarah sebagai pelajaran pilihan, Harris khawatir ilmu sejarah lambat laun akan terkikis. Menurutnya, hal ini tak bisa dibiarkan.

"Kalau begini ilmu sejarah lama-lama akan mati. Kenapa? Karena berawal dari sekolah. Kalau ada satu generasi enggak ngerti sejarah, otomatis akan hancur catatan bangsa ini," ujar guru Sejarah yang juga aktivis Taman Pembelajar Rawamangun itu.

Puluhan siswa SMK Multi Karya bersama guru mengikuti nonton bareng film pengkhianatan G30S/PKI, di Medan, Sumatera Utara, Rabu (27/9). Nonton bareng yang digelar pihak sekolah bekerjasama dengan TNI tersebut, untuk mengingatkan kembali sejarah kelam bangsa sekaligus memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang bahaya laten komunis. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/foc/17.Puluhan siswa SMK Multi Karya bersama guru mengikuti nonton bareng film bertema sejarah di Medan, Sumatera Utara, Rabu (27/9). (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

Hanya Sebagian Sekolah

Kemendikbud menyatakan Sejarah masih menjadi mata pelajaran wajib di sebagian sekolah pada 2021. Ini karena kurikulum baru belum diterapkan di seluruh sekolah pada tahun depan.

"Kurikulum 2013 dengan mata pelajaran Sejarah yang bersifat wajib, seperti halnya Agama dan PPKN akan tetap berlaku di tahun 2021 seperti biasa. Implementasi kurikulum baru di tahun 2021 akan dilakukan secara hati-hati dan terbatas," kata Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Maman Fathurrahman melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.

Ia menjelaskan kurikulum baru hanya akan diterapkan secara terbatas dan bukan di seluruh sekolah, sehingga sebagian sekolah masih menerapkan Kurikulum 2013.

Lebih lanjut, Maman mengatakan kurikulum baru masih dalam tahap pembahasan. Pihaknya pun membuka ruang agar sejumlah organisasi, pakar dan pengamat pendidikan memberi masukan terkait ini.

Ia menyadari sejarah merupakan komponen yang penting bagi masyarakat, sehingga mata pelajaran Sejarah akan tetap menjadi bagian pada kurikulum baru. Pihaknya pun bakal mendiskusikan hal ini dengan pakar terkait.

Sebelumnya wacana penghapusan Sejarah sebagai mata pelajaran wajib disebut dalam paparan sosialisasi penyederhanaan kurikulum dan asesmen yang disampaikan Kemendikbud. Dalam paparan tersebut Sejarah termasuk mata pelajaran kelompok IPS.

Bakal ada pengklasifikasian mata pelajaran pada jenjang SMA menjadi mata pelajaran dasar, mata pelajaran berdasarkan kelompok ilmu, dan pendidikan kecakapan hidup dan vokasi.

Untuk kelas 11 dan 12, siswa wajib mengambil tiga mata pelajaran pilihan dengan syarat minimal 1 mata pelajaran di kelompok MIPA, 1 mata pelajaran di kelompok IPS, 1 mata pelajaran di kelompok bahasa dan/atau vokasi.

Kurikulum baru sendiri ditargetkan mulai diterapkan tahun ajaran 2021/2022 dan diluncurkan Maret 2021. Mendikbud Nadiem Makarim ingin kurikulum baru mendorong guru mengidentifikasi siswa dan mengajar sesuai kemampuan mereka.

(fey/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK