ANALISIS

Wajah Lama Penggawa Gerindra, Upaya Pertahankan Tuah di 2024

CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 06:16 WIB
Kepengurusan baru Partai Gerindra yang didominasi wajah lama dinilai menunjukkan minimnya transformasi di internal partai. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. (Foto: (AP Photo/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra resmi mengumumkan kepengurusan baru periode 2020-2025. Sesuai hasil kongres, Gerindra kembali dipimpin oleh Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum didampingi Ahmad Muzani sebagai Sekretaris Jenderal.

Susunan kepengurusan masih didominasi wajah-wajah lama yang selama ini dikenal dekat dengan Prabowo Subianto yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina. Salah satunya Wakil Ketua Umum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad yang ditunjuk sebagai ketua harian partai menggantikan Laksdya TNI (Purn) Moekhlas Sidik.

Sementara sejumlah nama seperti adik Prabowo, Hasyim Djojohadikusumo, Fadli Zon, Edhy Prabowo, Ahmad Muzani, hingga Sandiaga Salahudin Uno juga masih menghiasi susunan pengurus dengan jabatan sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra.


Pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai, susunan pengurus baru ini tak mencerminkan proses transformasi signifikan di tubuh partai berlambang kepala burung garuda tersebut.

"Dream team mereka enggak terlalu banyak berubah. Dalam suatu kepengurusan lalu dan sekarang enggak banyak digeser," kata Arya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (20/9).

Menurut Arya, kepengurusan baru tersebut masih didominasi orang-orang kepercayaan atau inner circle kekuasaan Prabowo lima tahun belakangan ini.

Ia mencontohkan beberapa nama seperti Muzani, Dasco, Fadli, Edhy, Sugiono hingga Hasyim masih menjadi bagian sentral dari kepengurusan partai tersebut. Bahkan selain menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina, Dasco juga ditunjuk sebagai Ketua Harian Gerindra.

Sementara Muzani kini masih dipercaya untuk mengisi posisi Sekretaris Jenderal Gerindra oleh Prabowo. Posisi serupa juga diemban Muzani dalam kepengurusan Gerindra periode 2015-2020.

"Jadi ini jangkarnya enggak banyak berubah. Inner circle-nya Prabowo itu-itu aja, cuma ganti jabatan aja paling," kata Arya.

Arya turut menyoroti minimnya transformasi kader-kader potensial untuk mengisi jabatan strategis dalam partai. Ia mencontohkan nama Sandiaga yang hanya diberikan posisi dalam jajaran dewan pembina Gerindra.

Arya menyayangkan potensi Sandiaga yang begitu besar, justru tak ditempatkan pada jabatan yang sifatnya operasional dalam tubuh Gerindra. Padahal, kata dia, Sandiaga memiliki kemampuan besar berada di jajaran yang sifatnya teknis dalam kepengurusan tersebut.

"Bahkan orang seperti Sandiaga tak diberikan posisi operasional, yang punya kebijakan di DPP Gerindra. Dia malah ditaruh di dewan pembina, padahal potensinya besar," ucap Arya.

Meski demikian, ia juga menyoroti sejumlah nama baru dalam posisi struktur pimpinan partai. Di antaranya nama cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy'ari, Muhammad Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Agama Gerindra.

Arya menilai, langkah menarik Gus Irfan sebagai pimpinan strategis Gerindra semata-mata ingin menarik ceruk suara dari kalangan NU untuk partai tersebut.

"Tapi ya, enggak signifikan juga. Kebanyakan kalangan Nahdliyin ke PKB atau PPP juga selama ini," katanya.

Sandiaga Uno menyambangi kantor Kementerian Pertahanan di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sandi menemui Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan berdiskusi tentang isu-isu terkini. Dok : IstimewaSandiaga Uno menyambangi kantor Kementerian Pertahanan di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sandi menemui Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan berdiskusi tentang isu-isu terkini. (Dok : Istimewa)

Pengaruh Faktor Elektoral

Arya memandang, pemilihan wajah-wajah lama dalam kepengurusan Gerindra saat ini juga tak lepas dari faktor elektoral. Wajah-wajah lama itu dianggap berhasil mendongkrak perolehan suara Gerindra dalam Pemilu 2019.

Harapannya, nama-nama tersebut bisa membantu Prabowo mempertahankan perolehan suara Gerindra di Pilpres 2024 mendatang.

Selain itu, sosok Prabowo masih berpengaruh besar dalam tiap pengambilan keputusan partai yang strategis meski kini posisi ketua harian dijabat Dasco. Menurutnya, posisi ketua harian sekadar menjalankan roda organisasi dan mengurusi hal teknis untuk membantu Prabowo.

"Kebijakan-kebijakan besar, yang punya efek elektoral besar, Prabowo masih jadi penentu. Saya kira jelas SOP-nya, sehingga enggak muncul matahari kembar," tuturnya.

Arya menilai, penunjukkan Dasco sebagai ketua harian sekadar strategi internal guna memudahkan kerja-kerja partai. Pasalnya, Prabowo saat ini turut mengemban tugas sebagai menteri pertahanan di Kabinet Indonesia Maju.

Senada, pengamat dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai Gerindra tak bisa lepas dari sosok Prabowo. Menurutnya, Gerindra merupakan partai yang masih bergantung pada sosok figur sentral untuk meraup suara masyarakat.

Untuk itu, wajar jika Prabowo memilih kader-kadernya berdasarkan faktor kedekatan dan kepercayaan untuk mengisi jajaran kepengurusan partai.

"Gerindra itu sama seperti PDIP dan Demokrat, tetap tokoh sentral. Gerindra tokoh sentralnya Prabowo walaupun Dasco jadi ketua harian," kata Hendri.

Hendri menyatakan, posisi ketua harian Gerindra sengaja dibentuk untuk menjalankan roda organisasi partai karena Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Penunjukkan Dasco juga dinilai tepat karena merupakan orang kepercayaan Prabowo.

"Ya tapi Gerindra adalah Prabowo, bukan Dasco. Jadi walaupun Dasco jadi ketua harian, semua orang lihatnya Prabowo," ucapnya.

(rzr/pris)

[Gambas:Video CNN]