Sebelum Marahi Pedemo, Risma Surati Jokowi soal Omnibus Law

CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 19:37 WIB
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diklaim sudah mengirimkan surat aspirasi dari para buruh terkait Omnibus Law jauh sebelum demo ricuh menolaknya. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini turun ke jalan memarahi demonstran seusai demo menolak Omnibus Law bubar, 8 Oktober. (Foto: CNN Indonesia/Farid)
Surabaya, CNN Indonesia --

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini alias Risma disebut telah mengirimkan surat aspirasi dari buruh untuk meninjau ulang pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja kepada Presiden Joko Widodo.

Surat itu bahkan dikirimkan jauh sebelum aksi demonstrasi terjadi di Surabaya yang puncaknya terjadi pada 8 Oktober. Pada demo yang berujung ricuh itulah Risma memarahi seorang demonstran yang tertangkap polisi.

Dalam surat bernomor 560/9002/436.7/2020 yang dikirimkan 5 Oktober kepada Jokowi, Risma menyampaikan aspirasi dari para pekerja dan buruh tentang pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja. Ia pun meminta Jokowi untuk mempertimbangkannya.


Saat dikonfirmasi, Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara membenarkan keaslian surat untuk Jokowi tersebut. Surat itu, kata dia, memang sudah dikirim sebelum UU Cipta Kerja disahkan di sore harinya.

"Iya benar. Sudah lama itu suratnya," ujar Febri saat dikonfirmasi, Rabu (14/10).

Ia mengatakan bahwa surat itu dibuat Risma setelah wali kota perempuan pertama di Surabaya itu melakukan audiensi bersama para pekerja dan buruh pada Minggu (4/10).

Dari pertemuan itu, Risma menyerap aspirasi yang disampaikan oleh para buruh. Keesokan harinya, Senin (5/10), ia langsung mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi.

"Jadi Ibu buatkan surat dan dikirimkan esok harinya. Ibu langsung menuruti permintaan buruh supaya mereka itu tak perlu melakukan aksi demonstrasi," katanya.

Audiensi serta surat kepada Jokowi itu adalah langkah antisipasi Risma, yang juga kader PDIP, untuk menghindari terjadinya gelombang demonstrasi besar-besaran di Kota Surabaya.

Namun, demo tetap terjadi. Bahkan Kamis (8/10), aksi unjuk rasa berujung ricuh. Sejumlah fasilitas umum, seperti pot bunga, CCTV, bola di pedestrian, hingga water berrier pun rusak.

"Ibu tahu kok kemarin yang ricuh itu bukan buruh dan mahasiswa," ungkapnya.

Menurutnya, hal ini sekaligus menepis komentar miring terhadap Risma yang disebut netizen hanya bisa marah-marah kepada demonstran, tanpa memikirkan substansi demonstrasi mereka.

Infografis 6 Poin Penting Omnibus Law Ciptaker Klaster Ketenagakerjaan

Tanpa perlu menunjukkan ke publik, kata dia, sebenarnya Risma sudah terlebih dahulu mendengarkan aspirasi para buruh sebelum demonstrasi terjadi.

Sebelumnya, menanggapi berita CNNIndonesia.com soal Risma yang memarahi demonstran, sejumlah warganet melontarkan sindiran.

"Salah orang kali bu.. udah baca UU Omnibus Law Cilaka belum..? Hobi marah, mbok ya di atur sasaran marahnya," kata akun @adriancsb.

"Marahnya kepada DPR bu, karena mereka yang mengusulkan omnibus law, kalau tidak disahkan tidak akan terjadi demo," menurut akun @nalayeghie.

(frd/arh)

[Gambas:Video CNN]