Survei: 70 Persen Optimis Vaksin Merah Putih Atasi Pandemi

CNN Indonesia | Sabtu, 17/10/2020 00:45 WIB
Survei KedaiKopi pada 8-10 Oktober lalu menemukan optimisme yang tinggi di masyarakat bahwa vaksin corona buatan dalam negeri dapat mengakhiri pandemi. Ilustrasi. (iStockphoto/FilippoBacci).
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Survei KedaiKopi melakukan survei opini publik pengembangan vaksin merah putih untuk mengukur sejauh mana pengetahuan masyarakat terhadap vaksin virus corona yang dikembangkan di dalam negeri tersebut.

Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 59,7 persen responden tahu pengembangan vaksin merah putih. Lalu, 70,7 persen optimis vaksin merah putih dapat menyelesaikan pandemi Covid-19 di Indonesia dan 29,3 persen responden mengaku tidak optimis.

"Pengetahuan publik terhadap vaksin merah putih hampir 60 persen, di sini kita bisa lihat kecenderungan publik terhadap vaksin merah putih 70,7 persen optimis, yang tidak optimis 29,3 persen, jadi skala 1-10 rata-rata optimismenya ada di angka 6,3," ucap Manajer Riset Lembaga Survei KedaiKopi, Justito Adiprasetio, dalam Webinar 'Apa Kabar Vaksin Merah Putih?' Jumat, (16/10).


Wilayah survei terbatas di DKI Jakarta, metode survei yang digunakan adalah telesurvei. Survei dilakukan pada 8-10 Oktober 2020, dengan jumlah responden 803.

Responden adalah pekerja kantor di Jakarta dengan usia lebih dari 17 tahun, 55,3 persen responden laki-laki dan 44,7 persen responden perempuan.

Mayoritas dari responden berpendidikan SMA/sederajat 54,9 persen, kemudian S1/D4 26,5 persen, tamat D1/D2/D3 15,1 persen. Sebanyak 83,7 persen responden merupakan karyawan swasta atau buruh.

Rata-rata pengeluaran responden berada pada kisaran lebih dari Rp3 juta sebanyak 61,5 persen, lalu pada Rp2juta-Rp3 juta sebanyak 21,5 persen.

Lebih lanjut, Justito menjelaskan surveinya tak hanya fokus pada pemahaman publik terhadap vaksin merah putih, tapi juga inovasi lainnya yang dikembangkan oleh Indonesia seperti genose, dan ventilator.

Genose adalah alat deteksi cepat Covid-19 hasil kerja sama UGM dan dipromosikan oleh Kemenristek. Genose menggunakan mesin Artificial Intelligence (AI) yang dapat mendeteksi Covid-19 dari napas seseorang.

Survei KedaiKopi, sebanyak 55 persen responden tahu tentang inovasi Genose, dan 45 persen responden mengaku tidak tahu.

"Di sini bisa jadi catatan bahwa inovasi ini agar diperkenalkan lebih jauh, sehingga publik bisa tahu lebih jauh tentang apa yang dilakukan pemerintah," katanya.

Lalu KedaiKopi juga mengukur sejauh mana pengetahuan publik terhadap inovasi ventilator yang dikembangkan ITB, UI, dan Unpad.

Sebanyak 53,1 persen responden mengaku tahu, dan 44,9 persen responden mengaku tidak tahu inovasi tersebut.

"Kita lihat angka ketidaktahuan terhadap inovasi ventilator cukup tinggi, Kemenristek agar menginformasikan pengembangan ke masyarakat agar tercipta trust kepada pemerintah," katanya.

Selanjutnya, sebanyak 64,7 persen responden mengaku Covid-19 lebih mengancam dibanding 6 bulan yang lalu. Sebanyak 35,3 persen mengaku Covid-19 tidak mengancam.

"Di sini kita bisa garisbawahi bahwa Covid-19 lebih mengancam, ada ketahanan atau resistensi publik terhadap Covid-19," kata Justito.

Terpisah, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyebut saat ini ada sekitar 44,9 juta orang di Indonesia tak percaya dengan Covid-19. Hal ini kata Doni berdasarkan dari survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) selama periode 14-21 September.

Dari hasil survei itu diketahui ada 17 persen warga negara Indonesia yang mengaku tidak mungkin dan sangat tidak mungkin akan terpapar Covid-19.

"Sebuah angka yang sangat tinggi sekali. 17 persen dari 270 juta penduduk Indonesia itu setara dengan 44,9 juta orang," kata Doni saat memberi sambutan dalam Opening Batch II Mengajar Dari Rumah dan Upaya Mengubah Perilaku yang disiarkan di akun YouTube resmi milik Ditjen Pendidikan Tinggi.

Doni menyebut pola pikir itu harus dibenahi karena bisa memicu pelanggaran terhadap protokol kesehatan yang semakin banyak.

"Kalau ini tidak kita lakukan pembenahan, melakukan sosialisasi maka tentunya akan semakin banyak yang tak patuh protokol kesehatan. Sehingga sangat mungkin akan makin banyak yang terpapar Covid-19," kata dia.

(mln/tst/wis)

[Gambas:Video CNN]