Epidemiolog: Ultraviolet Tak Bisa Hancurkan Corona di Tubuh

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 16:11 WIB
Epidemiolog menyatakan sinar ultraviolet hanya mempengaruhi kekebalan tubuh, tidak membunuh virus corona di dalam tubuh. Ilustrasi swab test virus corona (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyatakan bahwa sinar ultraviolet baik buatan maupun alami seperti sinar matahari tak bisa membunuh virus corona (Covid-19) yang ada di dalam tubuh manusia. Sinar ultraviolet hanya berpengaruh terhadap kekebalan tubuh.

Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian mengatakan virus corona bisa hancur oleh alkohol 70 persen dan sinar ultraviolet.

"Pemahamannya bahwa virus mati dengan berjemur, enggak, tapi bahwa dengan berjemur ada dampak secara tidak langsung kekebalan tubuh, ya betul, tapi jangan dipahami bahwa dengan berjemur virus mati, itu yang salah," kata Dicky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/10).


Dia mengamini bahwa beberapa penelitian menyatakan gelombang sinar UV ini dapat menginaktivasi virus. Namun, tidak digunakan kepada manusia secara langsung karena dampaknya bisa merusak tubuh.

"Berdasarkan riset, yang bisa membunuh H1N1, menginaktivasi, itu sinar ultraviolet (C) pada panjang gelombang 254 nanometers itu dia sukses digunakan untuk menginaktivasi, tapi teknologi ini dipakainya bukan buat orang karena berbahaya, ini dipakai untuk desinfeksi alat kesehatan," ucapnya.

Ada tiga tipe sinar ultraviolet, yakni sinar UV (A), sinar UV (B), dan sinar UV (C). Sinar matahari, memang mengandung sinar UV, namun hanya sebatas pada sinar UV (A).

Sinar UV (A) ini bermanfaat untuk tubuh karena mengandung vitamin D. Beberapa manfaat lainnya yakni membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

"Tapi efek membentuk kekebalan tubuh ini juga tidak instan dan memerlukan waktu, karena sistem kekebalan tubuh manusia itu kompleks, ada prosesnya mulai dari makan makanan sehat, tidur teratur, olahraga teratur, jadi tidak langsung kebal," kata Dicky.

Sementara sinar ultraviolet yang bisa digunakan untuk menginaktivasi virus, adalah sinar UV (C). Gelombang sinar ini telah diabsorpsi oleh lapisan ozon sehingga hanya sedikit yang sampai ke bumi.

"Ultraviolet (C) yang dimaksud ini, karena diserap ozon, hanya sedikit yang sampai ke bumi, makanya peneliti membuat mesin yang menghasilkan UV(C) pada panjang gelombang 254, sering disebut UVC254, tapi digunakan untuk desinfeksi alat kesehatan, bukan untuk manusia," tuturnya.

Sebelumnya, Mendagri Tito Karnavian mengatakan virus corona bisa dihancurkan dengan alkohol 70 persen dan sinar ultraviolet baik alami mau pun buatan.

"Virus ini virus yang berlemak, maka dia termasuk lemah. Cara mematikannya adalah menghancurkan materi genetik RNA di bagian dalamnya," kata Tito dalam acara Kampanye Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia di kanal Youtube Katadata Indonesia, Kamis (15/10).

(mln/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]