Sultan Mengaku Sulit Cari Lahan Pengganti Korban Proyek Tol

CNN Indonesia | Kamis, 22/10/2020 06:55 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku tak bisa memfasilitasi warga korban gusuran proyek tol Yogya karena sulit cari lahan pengganti. Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku pihaknya sulit mencari lahan pengganti korban penggusuran proyek tol. (Foto: CNN Indonesia/Trie)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan pemerintah daerah (pemda) tak bisa memfasilitasi warga terdampak proyek tol di Yogyakarta yang menginginkan relokasi karena sulit mencari lahan pengganti.

Hal tersebut disampaikan Sultan menyusul masih ada warga terdampak yang belum mendapatkan lokasi pengganti untuk pindah tempat saat nanti rumah-rumah mereka tergusur proyek pembangunan jalan tol di Yogyakarta.

"Kami tidak bisa memfasilitasi itu, karena memang tidak mudah," aku Sultan, Rabu (21/10).


Pihaknya juga sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan lahan pengganti ketika ada tanah kas desa yang digunakan untuk proyek infrastruktur lantaran ketersediaan lahan luas yang sangat terbatas.

Terlebih, sambung Sultan, warga terdampak proyek tol umumnya mencari lokasi secara pilih-pilih dan tidak sekadar menerima lahan kosong kemudian dibeli untuk membangun rumah.

Lain halnya dengan relokasi lahan bagi warga terdampak pembangunan Bandara Yogyakarta International Airport, di Kulon Progo. Menurut Sultan, ketika itu, pemda membelikan lahan pengganti di atas tanah kas desa. Mau tidak mau, katanya, warga menerima relokasi hanya di lokasi tersebut.

Diketahui, proyek jalan tol Yogya - Solo, Yogya - Bawen, dan Yogya - Cilacap segmen Kulon Progo yang dilakukan secara bertahap ini tak hanya akan mengenai rumah-rumah warga maupun lahan-lahan persawahan produktif, melainkan juga infrastruktur berupa fasilitas umum.

Salah satunya, bangunan sekolah SD Negeri Banyurejo 1 di wilayah Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, DIY.

Kepala Sekolah SD Negeri Banyurejo 1 Tempel, Ismono mengungkapkan, bangunan sekolah yang dibangun di atas lahan seluas 2.995 meter persegi tersebut sebagian akan terkena proyek jalan Tol Yogya - Bawen.

Ismono berharap pemerintah setempat bisa membantu mencarikan lahan relokasi untuk memindahkan bangunan sekolah yang telah dibangun sejak tahun 1948 silam ini.

"Ini harapan kami supaya sekolah ini tidak tergusur begitu saja, dan bisa mendapat lokasi layak sesuai luas tanah yang sekarang ditempati," pinta Ismono saat ditemui wartawan di SD Negeri Banyurejo 1 Tempel, baru-baru ini.

Mengingat, Ismono beranggapan bahwa meskipun mendapatkan ganti untung atas pembebasan lahannya, tetapi saat ini untuk mendapatkan tempat relokasi sangat sulit.

(sut/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK