Kemenkes Akui Ada Salah Input Data Covid-19 Jateng

CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2020 16:08 WIB
Plt Dirjen P2P Kemenkes mengakui ada kesalahan dalam pelaporan data Covid-19 harian di Jawa Tengah pada 29 November lalu. Kompleks Kementerian Kesehatan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Kemenkes, Budi Hidayat mengakui ada kesalahan dalam pelaporan data Covid-19 harian di Jawa Tengah pada 29 November lalu.

Namun kesalahan pelaporan tersebut bukan berasal dari pihak Kemenkes selaku pengolah data. Budi mengatakan kesalahan pelaporan data berasal dari Dinas Kesehatan (Dinkes) tingkat kabupaten di Jateng yang memasukkan data ganda dan salah data.

"Iya memang betul, ada yang salah input, ada data yang telat, ada data ganda juga. Kita menerima data dari daerah, kita rilis, ternyata dari rilis ada yang enggak pas, ya kita kasih tahu ke daerah," kata Budi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (1/12).


Budi menjelaskan terkait proses pelaporan data yang diterima dan diolah pihaknya di Pusdatin Kemenkes. Pertama, fasilitas kesehatan di setiap kabupaten/kota melakukan verifikasi data Covid-19 di daerahnya. Setelahnya selesai melakukan verifikasi, setiap faskes di Indonesia memberikan laporan data harian Covid-19 ke Dinkes kabupaten/kota.

Laporan kemudian diteruskan ke Dinkes tingkat provinsi dan kembali dilakukan verifikasi. Setelah proses verifikasi selesai, data harian tersebut baru akan dilaporkan ke Kemenkes.

Sementara Kemenkes yang menerima data tersebut akan menganalisa dan membuat laporan tingkat nasional. Laporan ini juga akan diberikan ke Satgas Penanganan dan Percepatan Covid-19 pusat dan dipublikasikan.

"Kemenkes mendapatkan data dari seluruh Indonesia. Jadi dari Faskes di bawah, di daerah, ke kabupaten/kota, dari sana setelah diverifikasi masuk ke provinsi. Di provinsi dilakukan verifikasi lagi, baru ke pusat [Kemenkes]. Jadi ada dua kabupaten di Jateng yang memang salah input," jelas Budi.

"Kita mendapat data yang sudah terverifikasi dari bawah ke atas, sehingga Kemenkes hanya menampilkan," imbuhnya.

Namun, pihaknya memaklumi perihal salah input data ini, sebabnya proses perhitungan data Covid-19 harus cepat setiap harinya. Pelaporan data dari daerah ke pusat harus selesai setiap harinya pukul 15.00 WIB.

Budi juga menyatakan Kemenkes juga akan mengevaluasi tim surveilans dan proses pelaporan data di daerah agar kesalahan dalam laporan data Covid-19 tidak terulang kembali.

"Jadi memang waktunya enggak banyak. Ya, mungkin capek juga setelah 10 bulan pandemi, ini namanya human error. Akan kita perbaiki, ke depan tim surveilans pusat akan melakukan pemantauan lebih ketat pada seluruh data yang masuk, dengan memperhatikan data by name by address," jelasnya.

Sementara Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan, pihaknya hanya melakukan analisis data yang bersumber dari Kemenkes. Namun pihaknya juga akan melakukan evaluasi.

"Satgas hanya melakukan analisis data saja yang bersumber dari Kemenkes, akan tetapi kami juga menjadikan kondisi ini sebagai bahan evaluasi bersama karena kami sangat yakin data yang berkualitas adalah dasar pengambilan kebijakan yang strategis," tuturnya.

Sebelumnya, kasus positif Covid-19 di Jateng mengalami rekor tambahan terbanyak dengan 2.036 kasus sehari, pada Minggu 29 November lalu. Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo mengatakan data ganda dalam rilis Satgas Covid-19, sehingga jumlah kasus positif terinfeksi virus corona di provinsi itu pun meningkat drastis.

Pihaknya juga menemukan banyak kasus lama yang dimasukkan dalam rilis Satgas Covid-19 pada 29 November 2020 atau banyak data yang sebenarnya sudah ter-input pada Juni 2020 namun kembali dilaporkan.

(mln/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK