Data PBNU: 207 Ulama Pengasuh Ponpes Meninggal karena Covid

CNN Indonesia | Jumat, 11/12/2020 18:34 WIB
Asosiasi Pesantren NU menyebut penularan Covid-19 di pesantren semakin parah. Di sisi lain, negara belum hadir dalam menangani kasus-kasus di pondok. Tes virus corona kepada santri pondok pesantren Al-Amien, Kota Kediri, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama atau Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) mencatat 207 ulama pengasuh pondok pesantren telah meninggal dunia karena terpapar virus corona (Covid-19).

"Sampai Selasa 8 Desember 2020, RMI PBNU mencatat 207 masyayikh, kyai dan nyai, wafat selama masa pandemi. Kasus Covid-19 paling tidak ditemukan di 110 pesantren," kata Ketua RMI PBNU Abdul Ghofarrozin kepada CNNIndonesia.com, Jumat (11/12).

Gus Rozin, sapaan akrabnya, mengatakan penularan Covid-19 di pesantren makin parah. Hal tersebut menjadi ancaman bagi pesantren dan para ulama.


Rozin menyayangkan negara belum hadir saat badai pandemi Covid-19 menghantam pondok pesantren. Ia mengungkap sosialisasi dan edukasi Covid-19 di pesantren masih minim.

Selain itu, ia menilai komunikasi publik pemerintah kurang baik saat terjadi klaster Covid-19 di pesantren. Pondok pesantren juga kesulitan mengakses bantuan tes PCR.

"Mengingat pesantren adalah aset penting bangsa Indonesia, maka RMI PBNU meminta negara untuk hadir secara lebih serius dengan pola penanganan terpadu," ucapnya.

Rozin meminta Kemenkes menggandeng Kementerian Agama dan para ulama dalam mencegah penularan Covid-19 di pesantren. Terutama saat ditemukan klaster penularan Covid-19 di kalangan santri dan para ulama.

(dhf/wis)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK