Jalan Mulus Listyo Sigit Menuju Kapolri Era Jokowi
CNN Indonesia
Kamis, 14 Jan 2021 08:04 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pencalonan Listyo Sigit sebagai Kapolri juga mendapat dukungan dari Ormas Islam. (Foto: Safir Makki)
Dukungan juga datang dari kelompok ormas agama. Dua ormas Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama serta organisasi sayapnya pun tak mempersoalkan pilihan Jokowi. Sekalipun diketahui bahwa Listyo bukan seorang muslim.
Dalam beberapa momen, perbedaan agama kerap menuai sorotan publik.
Tapi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud memastikan organisasinya menghormati hak prerogatif Jokowi sebagai presiden. Mereka pun tak mempermasalahkan keyakinan Listyo.
Yang penting menurut dia, adalah soal kompetensi dan tanggung jawab terkait profesinya.
"Kalau kita lihat negara Islam mana pun, Islam pun banyak yang mengangkat pembantu-pembantunya dari nonmuslim. Itu saja. Cukup secara pengalaman, kafaah itu cakap. Cakap itu mempunyai segalanya, kepandaian, ilmunya, integritasnya," kata Marsudi lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu.
Sementara Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyatakan bahwa pilihan itu merupakan wewenang presiden. Adapun Organisasi sayap Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah masih menantikan proses uji kepatutan dan kelayakan atas Listyo oleh Komisi III DPR RI.
"Proses uji kelayakan itu juga sebagai instrumen para wakil rakyat menyalurkan berbagai aspirasi masyarakat terhadap Polri," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto dalam keterangannya yang diterima, Rabu.
"Komjen Sigit harus mampu menjawab berbagai tantangan dan tren kejahatan yang saat ini bermetarfosa dalam berbagai bentuk. Baik cara, teknologi dan pola kejahatan yang mengalami perubahan cepat," sambungnya.
Pilihan Jokowi menunjuk Listyo bisa diartikan menepikan empat nama calon lain yang diusulkan Kompolnas. Mereka antara lain Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar, Kabaharkam Komjen Agus Andrianto, serta Kalemdikpol Komjen Arief Sulistyanto.
Adapun karir Listyo Sigit Prabowo mentereng usai berhasil membongkar banyak kasus besar di Indonesia. Teranyar, dia bersama anak buahnya menangkap buron terpidana kasus hak tagih (Cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra pada 30 Juli 2020 lalu.
Kini, Listyo selangkah lagi untuk menduduki pucuk pimpinan Korps Bhayangkara. Dia bakal melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Senin (18/1) mendatang.
Listyo pun meminta dukungan dan doa dari sejumlah pihak yang selama ini telah membantunya.
"Mohon doanya agar bisa melaksanakan rangkaian fit and proper test dengan baik," kata Sigit kepada wartawan saat dihubungi, Rabu (13/1).
(mjo/nma)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi memilih Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Idham Azis yang akan pensiun pada Februari mendatang.
Jokowi, melalui Menteri Sekretaris Negara, Pratikno mengirimkan Surat Presiden (Surpres) berisi usulan nama Kapolri tersebut ke pimpinan DPR pada Rabu (13/1) pagi. Surpres ini langsung diterima Ketua DPR RI Puan Maharani.
Sejumlah pihak sudah sempat memprediksi bahwa Jokowi bakal menunjuk Listyo untuk mengisi kursi 'Tribrata 1'. Bukan hanya dari segi kedekatannya dengan Jokowi, Listyo juga dikenal piawai dalam bidang reserse selama berada di Polri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Listyo sendiri merupakan mantan Ajudan Jokowi saat dirinya masih berpangkat Komisaris Besar (Kombes) pada 2014 lalu. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Kapolres Surakarta pada 2011.
Saat Listyo bertugas di Solo, Jokowi menjabat Wali Kota.
Pemilihan Listyo pun mendapat angin segar dari pelbagai pihak, termasuk kalangan parlemen. Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, seluruh fraksi di Komisi III DPR RI tidak mempersoalkan sosok Listyo.
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Arteria Dahlan menyatakan dirinya dan fraksinya siap mendukung calon yang diajukan Jokowi.
"Saya melihat pilihan Pak Jokowi ke Komjen Listyo Sigit sangat tepat dan cukup beralasan dan diambil melalui suatu proses pencermatan yang mendalam melalui suatu keputusan-keputusan yang matang dan telah mempertimbangkan banyak hal serta pastinya merupakan keputusan yang terbaik," kata Arteria kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/1).
Tak hanya dari partai pendukung Jokowi, oposisi pun bersuara sama. Misalnya, Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi PAN Pangeran Khairul Saleh menyatakan Listyo Sigit adalah putra terbaik di Polri yang bisa menjadi harapan masyarakat. Ia pun menyatakan bahwa PAN bakal menyokong pilihan Jokowi itu.
Pernyataan senada datang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Demokrat.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS Nasir Djamil menyatakan menghormati keputusan Jokowi terkait pencalonan Listyo menjadi Kapolri.
Nasir pun tidak mempersoalkan langkah Jokowi yang lebih memilih menunjuk calon Kapolri dari lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991. Dari segi angkatan di kepolisian, Listyo memang tercatat lebih muda ketimbang calon-calon lain dalam daftar yang diajukan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) ke Presiden Jokowi.
"PKS menghormati keputusan Presiden terkait penunjukan Listyo menjadi calon Kapolri, karena di UU Polri tidak ada soal urut kacang atau lompatan-lompatan dari angkatan, syaratnya perwira tinggi aktif dan dengan memperhatikan jenjang karier di kepolisian," terang Nasir.
Ilustrasi. Pencalonan Listyo Sigit sebagai Kapolri juga mendapat dukungan dari Ormas Islam. (Foto: Safir Makki)
Dukungan juga datang dari kelompok ormas agama. Dua ormas Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama serta organisasi sayapnya pun tak mempersoalkan pilihan Jokowi. Sekalipun diketahui bahwa Listyo bukan seorang muslim.
Dalam beberapa momen, perbedaan agama kerap menuai sorotan publik.
Tapi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud memastikan organisasinya menghormati hak prerogatif Jokowi sebagai presiden. Mereka pun tak mempermasalahkan keyakinan Listyo.
Yang penting menurut dia, adalah soal kompetensi dan tanggung jawab terkait profesinya.
"Kalau kita lihat negara Islam mana pun, Islam pun banyak yang mengangkat pembantu-pembantunya dari nonmuslim. Itu saja. Cukup secara pengalaman, kafaah itu cakap. Cakap itu mempunyai segalanya, kepandaian, ilmunya, integritasnya," kata Marsudi lewat sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu.
Sementara Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyatakan bahwa pilihan itu merupakan wewenang presiden. Adapun Organisasi sayap Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah masih menantikan proses uji kepatutan dan kelayakan atas Listyo oleh Komisi III DPR RI.
"Proses uji kelayakan itu juga sebagai instrumen para wakil rakyat menyalurkan berbagai aspirasi masyarakat terhadap Polri," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto dalam keterangannya yang diterima, Rabu.
"Komjen Sigit harus mampu menjawab berbagai tantangan dan tren kejahatan yang saat ini bermetarfosa dalam berbagai bentuk. Baik cara, teknologi dan pola kejahatan yang mengalami perubahan cepat," sambungnya.
Pilihan Jokowi menunjuk Listyo bisa diartikan menepikan empat nama calon lain yang diusulkan Kompolnas. Mereka antara lain Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar, Kabaharkam Komjen Agus Andrianto, serta Kalemdikpol Komjen Arief Sulistyanto.
Adapun karir Listyo Sigit Prabowo mentereng usai berhasil membongkar banyak kasus besar di Indonesia. Teranyar, dia bersama anak buahnya menangkap buron terpidana kasus hak tagih (Cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra pada 30 Juli 2020 lalu.
Kini, Listyo selangkah lagi untuk menduduki pucuk pimpinan Korps Bhayangkara. Dia bakal melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Senin (18/1) mendatang.
Listyo pun meminta dukungan dan doa dari sejumlah pihak yang selama ini telah membantunya.
"Mohon doanya agar bisa melaksanakan rangkaian fit and proper test dengan baik," kata Sigit kepada wartawan saat dihubungi, Rabu (13/1).