Kalsel Dikepung Banjir, Pakar Singgung Hujan Ekstrem

CNN Indonesia | Sabtu, 16/01/2021 13:38 WIB
Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca menyebut hujan ekstrem, dengan curah hujan 270 mm, berkontribusi pada banjir di Kalimantan Selatan. Banjir yang menerjag Kalsel disebut dipicu oleh hujan ekstrem. (Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Jon Arifian mengatakan banjir besar di sebagian wilayah Kalimantan Selatan dipicu oleh hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Data Balai Besar Teknologi Cuaca - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBTMC-BPPT) menyebutkan bahwa tingkat curah hujan saat ini mencapai 270 mm per hari.

"Hujan yang terjadi beberapa hari ini dan cukup lebat lebih disebabkan karena adanya daerah pertemuan atau pumpun angin di wilayah Kalimantan Selatan, dimana akan menyebabkan penumpukan massa udara dan menyebabkan pertumbuhan awan yang cukup masif didaerah tersebut," kata Jon dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (16/1).


Berdasrkan analisis vektor angin global pada 8 hingga 12 Januari 2021, lanjutnya, wilayah Indonesia merupakan area pertemuan angin dari Samudera Pasifik (Timur) dan Samudera Hindia (Barat) yang menyebabkan pengumpulan massa udara di wilayah Indonesia bagian tengah.

Pengumpulan massa udara yang cukup masif ini berpotensi menyebabkan hujan ekstrem seperti halnya yang terjadi di Kalimantan Selatan.

Dari beberapa penakar hujan milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tingkat curah hujan yang terjadi di Kalimantan Selatan telah mencapai 270 mm perhari. Tingkat itu masuk dalam kategori sangat eksteim.

"Hujan yang terjadi beberapa hari sebelumnya dan hujan ekstrim tadi malam merupakan penyebab terjadinya banjir. Pusat curah hujan tertinggi terletak di wilayah Kalimantan Selatan bagian barat dan selatan, seperti terlihat pada gambar peta intesitas curah hujan BMKG," ungkapnya.

Namun begitu, Jon mengatakan hujan di Kalimantan Selatan dalam beberapa hari ke depan berdasarkan beberapa prediksi ECMWF dan GFS akan berangsur menurun.

Sementara wilayah lain masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem karena Indonesia masih dalam kondisi La Nina walaupun kategori lemah. Ia menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan terjadinya cuaca ektrem.

"Kalaupun ada hujan pada beberapa hari setelahnya intensitasnya akan lebih ringan dari tanggal 14 dan 15 Januari 2021," kata Jon.

Jon melanjutkan fenomena hujan ekstrem di Indonesia sebetulnya hal lumrah dengan sebab macam-macam.

"Cuaca dan iklim di Indonesia dipengaruhi faktor global seperti misalnya fenomena La Nina, MJO, dan angin monsoon dan lainnya," ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono menyebut ada faktor lain yang membuat banjir di Kalsel kian parah selain faktor hujan. Yakni, kerusakan lingkungan.

"Selain carut marut tata kelola lingkungan dan sumber daya alam, banjir kali ini sudah bisa diprediksi terkait cuaca oleh BMKG," kata Kisworo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (15/1).

Sejak beberapa tahun terakhir, Kalsel mengalami degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi tersebut terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara.

Infografis Langkah Selamat Saat BanjirInfografis Langkah Selamat Saat Banjir. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

Menurut dia, sebagian lubang berstatus aktif, dan sebagian telah ditinggalkan tanpa reklamasi. Lebih lanjut, menurut Kisworo, dari 3,7 juta hektar total luas lahan di Kalsel, hampir 50 persen di antaranya sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit.

Kisworo menjelaskan, kerusakan ekosistem alami di daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah area tangkapan air menyebabkan kelebihan air di daerah hilir yang menyebabkan banjir.

Namun demikian, Kisworo tidak menjelaskan secara rinci apakah kerusakan ekologis itu juga berdampak cukup serius di daerah resapan air.

"Kita belum sampai ke sana. Perlu waktu dan kajian khusus," tandasnya.

(ryh/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK