Pembentukan Komponen Cadangan Dianggap Bukan Hal Mendesak

CNN Indonesia | Selasa, 26/01/2021 09:43 WIB
Pengamat militer menilai sebelum membentuk Komponen Cadangan, Kementerian Pertahanan perlu memperkuat Komponen Pendukung. Pengamat militer menilai sebelum membentuk Komponen Cadangan, Kementerian Pertahanan perlu memperkuat Komponen Pendukung. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pembentukan Komponen Cadangan oleh Kementerian Pertahanan dinilai bukan hal yang mendesak. Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi berpendapat sebelum membentuk Komcad, Kemhan seharusnya fokus memperkuat Komponen Pendukung.

Alih-alih terburu mengumumkan rencana rekrutmen Komcad, kata Fahmi, lebih baik Kemhan merapikan basis data potensi sumber daya nasional yang dibutuhkan untuk kepentingan pertahanan negara.

"Juga membangun komunikasi dan koordinasi lintas kementerian dan lembaga sembari menyiapkan regulasi-regulasi turunan yang dibutuhkan dalam pengelolaan itu," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/1).


Tak hanya soal ketergesaan, Fahmi juga mengingatkan soal ekses yang bisa muncul terkait pendidikan militer bagi Komcad. Sebab menurutnya, jika tak dikelola dengan baik maka pemerintah sama saja sedang menyiapkan munculnya potensi kriminalitas dan gangguan keamanan baru sebagai dampak hadirnya pengangguran berkemampuan dasar militer.

Dia mengatakan Komcad memiliki masa aktif dan tidak aktif setelah direkrut. Masa aktif mereka adalah saat mengikuti pelatihan dan saat dimobilisasi untuk terjun ke lapangan.

Fahmi menyarankan agar Kemhan menyiapkan program-program menyangkut pembinaan kesadaran bela negara kepada generasi milenial yang lebih menarik dan substansial.

Pembinaan itu, kata dia, adalah perintah UU PSDN untuk diselenggarakan dalam ruang lingkup lembaga pendidikan, masyarakat dan pekerjaan.

"Mengurusi itu saja, saya kira waktu 365 hari dalam setahun enggak akan cukup. Tapi justru di situlah esensi dari Sistem Pertahanan Semesta dan peran serta warga negara dalam bela negara," katanya.

Meski demikian, dia menilai pembentukan Komcad diperlukan, namun kementerian yang dipimpin Prabowo Subianto itu tidak perlu tergesa-gesa dalam pembentukannya.

Menurut Fahmi, banyak hal yang mesti diperhitungkan dan dipertimbangkan Prabowo sebelum Komcad benar-benar dibentuk. Fahmi sendiri tak membantah, Indonesia seperti negara-negara lainnya memang memerlukan bantuan di luar komponen pendukung untuk mempertahankan Indonesia dari berbagai lini serangan.

Komponen ini disebut sebagai komponen cadangan yang biasanya memang berasal dari masyarakat sipil. Namun kata dia, sebelum benar-benar membentuk ada berbagai hal yang harus diperhatikan. Salah satunya berkaitan dengan seberapa besar personel yang dibutuhkan negara terkait Komcad.

"Apakah Kemhan sudah benar-benar menghitung berapa besar kebutuhan personel Komcad ini? Berapa banyak yang harus direkrut secara terbuka? Bagaimana formula penghitungannya? Dari mana angka kebutuhan 25 ribu personel itu?" kata Fahmi.

Tak hanya itu, sebelum benar-benar merekrut Komcad, Fahmi juga mengingatkan Kemhan agar tahu seberapa banyak Komponen Pendukung yang tersedia saat ini. Komduk, kata dia, bukan hanya TNI dan Polri, tapi juga terdiri dari berbagai unsur yang sudah tersedia dan terlatih.

Dalam komduk ini kata dia, ada kelompok warga terlatih seperti purnawirawan TNI/Polri, Menwa, Satpam, Satpol PP, Polsus, Linmas maupun anggota ormas yang dapat dipersamakan dengan warga terlatih.

"Banser dan Kokam, misalnya. Selain itu, kelompok tenaga ahli sesuai profesi dan keahlian yang ditekuni dan kelompok warga lainnya seperti veteran dan ASN juga masuk dalam Komduk ini," jelas Fahmi.

Infografis Komcad, Pasukan Bela Negara Baru IndonesiaInfografis Komcad, Pasukan Bela Negara Baru Indonesia. (CNN Indonesia/Basith Subastian)
(tst/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK