Mengenang John Lie, Spesialis Penembus Blokade Laut

CNN Indonesia | Jumat, 12/02/2021 10:02 WIB
John Lie Tjeng Tjoan alias John Lie, pahlawan nasional dari etnis Tionghoa, dikenal karena kelihaiannya menembus blokade laut para penjajah di masa revolusi. TNI AL menyematkan nama John Lie sebagai identitas bagi kapal perang bertipe perusak kawal rudal MRLF (Multi Role Light Fregate). Kapal itu memiliki panjang 95 meter dan lebar 12,7 meter berbobot 1940 ton, dilengkapi system pendorong empat motor pokok CODAD (Combined Diesel and Diesel). (Antara Foto/Jupiter Weku)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nyali dan dedikasi John Lie tercatat dalam sejarah republik. Pemerintah Indonesia mengabadikan nama pahlawan nasional dari etnis Tionghoa ini menjadi nama bagi kapal perang TNI AL jenis multi role light frigate (MRLF).

Laksamana Muda John Lie dikenang sebagai seorang prajurit tempur laut andal yang berani menembus blokade pertahanan Belanda dalam operasi lintas laut (1945-1949). Pria bernama lengkap John Lie Tjeng Tjoan ini lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 9 Maret 1911 dan meninggal pada 1988.

John Lie yang mengenyam pendidikan di Hollands Chinese School (HCS) dan Christelijke Lagere School, menapaki Jakarta pada usia 17 tahun.


Meski mengenyam 'bangku sekolah', jalan hidup John Lie di ibu kota tak sepenuhnya mulus. Ia bahkan sempat menjadi buruh di Pelabuhan Tanjung Priok, sebelum akhirnya bekerja di perusahaan pelayaran Belanda Koninklijk Paketvaart Mattschappij (KPM) pada 1929.

Kerja pertamanya di perusahaan tersebut adalah sebagai Mualim III, yaitu orang yang mengatur, memeriksa, dan memelihara semua alat keselamatan kapal dan juga sebagai pengatur arah navigasi.

Bekerja di kapal membawa John Lie melanglang buana. Seperti ditulis Nursam dalam buku yang berjudul Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie (2008), pada Februari 1942 John Lie berada di Pelabuhan Cilacap, di atas kapal MV Tosari milik KPM menuju Pangkalan Inggris Khoramshar di Iran.

Saat itu, kapal MV Tosari digunakan sebagai pengangkut logistik untuk Angkatan Laut Inggris. John Lie bersama para awak MV Tosari lainnya diberi pelatihan militer untuk menghadapi Perang Dunia II. Mereka di antaranya diajari taktik perang laut, menggunakan berbagai macam senjata api dan manajemen pengepalan logistik.

Usai perang Dunia II, tepatnya setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, John Lie memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Februari 1946 John Lie ikut kapal MV Ophir. Ia singgah di Singapura selama 10 hari sebelum melanjutkan perjalanannya lagi. Mei 1946 ia kembali melanjutkan perjalanan dan berlabuh di Yogyakarta.

Sesampainya di Yogyakarta, ia bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI)--saat ini TNI AL--sebagai Kelasi III.

KRI John LieKRI John Lie saat sandar di Tanjung Priok, Jakarta Utara. (CNN Indonesia/Nadhen Ivan)

Misi Menembus Blokade Belanda sampai Penyelundupan

Pada 29 Agustus 1946 ia ditugaskan di Pelabuhan Cilacap. Ia menaiki kapal ML 336 dengan tujuan Labuan Bilik, Sumatra Timur. Kapal ini membawa senjata dan amunisi.

Tugas pertamanya dengan ALRI adalah misi menembus blokade Belanda. Selain dikenal sebagai penembus blokade Belanda, John Lie juga dikenal mahir menyelundupkan senjata dengan kapal The Outlaw.

Operasi pertamanya dengan The Outlaw dimulai pada Oktober 1947. Kapal ini berlayar dengan rute Singapura, Labuan Bilik dan Port Swettenham. Kapal ini mengangkut berbagai perlengkapan militer. Saat berlayar di Sumatera, kapal yang dinaikinya sempat diburu Angkatan Laut Belanda. Selain itu, kapalnya juga sempat dihampiri pesawat terbang Belanda.

Namun, The Outlaw berhasil mengecoh, sehingga pesawat Belanda yang sempat mengarahkan senapan mesin pun melanjutkan kembali terbang patrolinya.

John Lie dan pasukan berhasil mendaratkan muatan senjata di Labuhan Bilik, Sumatera Utara. Tak lama setelah itu, ia kembali melanjutkan perlayarannya ke Port Swattenham, Malaysia. Di kapal itu ia membawa karet untuk dijual.

Malaysia saat itu berada dalam kekuasaan Inggris. Sehingga, tak mudah untuk menembus blokade pasukan bangsa Barat itu. Namun, John Lie dan awak kapal lain berhasil lagi menembus blokade.

Kepangkatan John Lie merangkak seiring keberhasilannya menyelesaikan misi-misi perang. Pangkat tertingginya sebelum pensiun adalah Laksamana Muda.

Ia purna tugas dari TNI AL pada 1967 dengan dua bintang di pundaknya. Pada tahu yang sama John Lie mengganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma.

Pada tahun tersebut, etnis Tionghoa memang diharuskan mengganti nama dengan menghilangkan unsur China lewat Surat Edaran No.06/Preskab/6/67 tahun 1967.

Pada Agustus 1988 Laksamana Muda John Lie menutup mata. Lebih dari dua dekade setelah wafat, jasa-jasanya baru diakui pemerintah. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 9 November 2009 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada John Lie.

(yla/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK