SATU TAHUN CORONA DI INDONESIA

Babak Belur Guru Agama Dihajar Corona

Syakirun Niam, CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 11:52 WIB
Dai mengubah jalan dakwah selama pandemi. Metode virtual dinilai lebih relevan. Namun ada sesuatu yang hilang, yaitu keberkahan. KH Jamaluddin Faisal Hasyim Pesantren Ma'had Aly Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah di Matraman, Jakarta Timur. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)
Jakarta, CNN Indonesia --

KH Jamaluddin Faisal Hasyim segera menjalani tes usap polymerase chain reaction (PCR) pada pertengahan Februari 2021. Puluhan santri dan keluarganya juga mengikuti tes yang sama.

Pesantren Ma'had Aly Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah di Matraman, Jakarta Timur, gempar setelah ada santri yang dinyatakan positif Covid-19. Ini adalah kasus pertama di pesantren itu sejak dibuka kembali.

"Kemarin kami di-PCR semua. Mudah-mudahan negatif semua, ya," kata Jamal saat menunggu hasil tes, Kamis (18/2).


Semenjak virus corona mulai mewabah di Indonesia, pesantren tersebut sempat menyetop kegiatan. Para santri dipulangkan. Kegiatan keagamaan pun banyak berubah, termasuk rutinitas Jamal.

Jamal adalah pengasuh di pondok itu. Ia memimpin yayasan yang membawahi lembaga pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi.

Pendakwah asli Betawi ini juga kerap mengisi ceramah di sejumlah majelis taklim, dengan audiens jemaah dari masjid maupun kantor pemerintahan.

Namun, dakwah rutin tersebut terhenti. Masa-masa sulit itu berlangsung sepanjang Maret hingga Juni 2020. Semua kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan tak jalan. Para dai yang sehari-hari mengisi pengajian pun menganggur.

"Itu masa-masa paling berat buat asatidz (guru agama)," kata Jamal.

Guru agama di kampung-kampung paling merasakan dampaknya. Selama ini mereka menghidupi keluarga dari honorarium mengajar di madrasah, menyampaikan khotbah Jumat, memimpin kenduri, maupun mengurus jenazah. Kegiatan para dai tercerabut pandemi.

Melihat situasi ini, Jamal berusaha menggalang bantuan. Sebagai Ketua Koordinasi Dakwah Islam DKI Jakarta dan Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus Majelis Ulama Indonesia, dia memanfaatkan jaringan yang ada.

Dana bantuan yang telah terkumpul kemudian digunakan untuk membeli sembako. Seratus paket bantuan dalam porsi tiga kali bansos pemerintah, dibagikan kepada para guru ngaji dan ustaz.

Nasib guru-guru agama mulai membaik ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan pada Juni. Sejumlah masjid juga kembali menggelar ibadah salat Jumat dengan penerapan protokol kesehatan.

"Ketika Jumatan mulai lagi sudah mendingan bagi para asatidz," kata Jamal.

Aktivitas santri di Pondok Pesantren An Nuqthah, Kota Tangerang, Banten, Kamis, 18 Juni 2020. Pondok pesantren An Nuqthah kembali melaksanakan aktivitas setelah libur panjang akibat COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dan pengecekan kesehatan bagi santri yang baru tiba. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaFoto ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Pengajian Virtual

Di masa sulit itu, Jamal lebih beruntung dibandingkan guru agama di kampung. Ia menyiasati pengajian secara virtual. Salah satunya melalui aplikasi Zoom. Segmen jemaahnya ikut mendukung cara itu.

"Karena segmen saya kan, sebagian menengah perkantoran yang memang menyiasati Covid-19 dengan pengajian online," kata Jamal.

Hal serupa juga Jamal terapkan di pesantren. Ketika santrinya dipulangkan pada Maret lalu dan banyak kegiatan dibatasi, ia mulai menyiarkan pengajian malam Senin. Biasanya kajian rutin itu ia lakoni secara tatap muka, kini disiarkan melalui fanpage Facebook Ma'had Aly Al Aqidah Al Hasyimiyyah. Hingga kini.

Pengajian dengan medium virtual itu, menurutnya, dapat memperluas jangkauan jemaah. Sejak pandemi, Jamal memiliki jadwal rutin mengaji via Zoom dengan beberapa syekh dari berbagai belahan dunia, seperti Makkah, Yaman, Maroko.

Meski demikian cara ini juga memiliki kekurangan. Jamal merasa pengajian virtual kurang menyentuh secara emosi dan rohani.

Biasanya, seorang murid bersimpuh di depan gurunya selama mengikuti pengajian. Sementara melalui virtual, murid bisa saja menutup kamera, lalu mengikuti kajian sambil rebahan, duduk semaunya, atau berpakaian seadanya.

"Ini yang mengerikan dari daring, kurangnya barokah transfer energi rohaniah dari guru ke murid," kata Jamal.

Belum lagi jika kajian daring terganggu jaringan yang buruk. Baginya, pengajian secara tatap muka tetap tak bisa tergantikan.

Namun Jamal tetap menganjurkan para ustaz di pesantren yang diasuhnya bersiap menghadapi era digital. Para dosen juga dianjurkan lebih banyak lagi melakukan pembelajaran secara daring.

Dia mengatakan metode pembelajaran nantinya mengombinasikan antara luring dan daring. Jamal berpendapat metode pembelajaran dengan cara mengumpulkan orang jadi kurang relevan.

"Tidak terlalu diperlukan gedung sekolah yang besar-besar, karena tidak ada konsentrasi murid di satu tempat di satu waktu," jelas Jamal.

Kajian virtual juga diterapkan saat beberapa santri putri terpapar Covid-19. Pada kajian subuh misal, para santri putra mengikuti kegiatan di masjid, sementara santri putri di kamar masing-masing melalui aplikasi Zoom.

"Nanti kalau masih berlanjut ya, seperti itu terus. Mereka streaming di kamar masing-masing, menyaksikan melalui Facebook, karena memang lagi isolasi," ujarnya.

Pendakwah dan tokoh agama, Ustadz Jamal Hasyim saat ditemui di kediamannya, Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (27/2).Tokoh agama ustaz Jamaluddin Faisal Hasyim di kediamannya kawan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (27/2). (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Hikmah Pandemi

Pandemi, menurut Jamal, membuat manusia hidup dalam ironi. Orang-orang harus memakai masker, menjaga jarak, dan pembatasan lain yang tidak menyenangkan. Ia menilai ini adalah sindiran dari Tuhan.

Penggunaan masker, misalnya. Jamal mengambil hikmah sebagai teguran bahwa barangkali selama ini manusia menjadi makhluk yang paling rakus. Apa saja dikonsumsi.

"Kita jadi seperti makhluk yang paling buas dalam urusan makanan. Tiba-tiba disimbolkan dengan masker," kata Jamal.

Soal keharusan menjaga jarak, bagi Jamal, sebagai teguran karena manusia sibuk dengan ponsel masing-masing padahal saling berdekatan. Atau kebiasaan berjabat tangan hanya sebagai formalitas belaka.

Sementara, disiplin mencuci tangan dianggap jadi sindiran atas kezaliman manusia seperti mencuri. "Meskipun begitu, masih banyak yang korupsi, bansosnya dikorupsi," ujarnya.

Dalam situasi ini, kata Jamal, sikap tokoh agama ikut menentukan kapan pandemi akan berakhir. Kepatuhan protokol kesehatan oleh pemuka agama jadi pembelajaran bagi masyarakat.

"Prokes itu edukasi pada umat, mendidik umat, bukan soal Anda percaya atau enggak, terserahlah itu keyakinanmu, tapi tindakanmu itu dicontoh oleh umat," kata Jamal.

Ia pun senantiasa memberi contoh kepada santrinya agar disiplin menerapkan protokol kesehatan. Saat di masjid, Jamal tidak melepas masker meskipun ia meyakini tempat itu steril.

"Kalau saya buka masker, santri juga akan buka semua. Karena kita ini guru," kata Jamal memberi penekanan.

Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (NU) mencatat sebanyak 333 kiai dan ulama NU meninggal dunia selama pandemi virus corona. Data tersebut terhitung sejak Februari 2020 hingga 26 Januari 2021.

Jamal menilai semua orang perlu melakukan ikhtiar dan berdoa di tengah masa-masa sulit pandemi Covid-19. Jamal mengingatkan dua hal. Ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan, doa tanpa ikhtiar adalah kecerobohan.

(pmg/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK