Mafindo Ungkap Efek Merusak dari Propaganda Para Buzzer

CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 12:06 WIB
Penggunaan buzzer hingga bots bisa menutup pembicaraan kritis di media sosial hingga polarisasi di masyarakat. Ilustrasi media sosial. (LoboStudioHamburg/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Anita Wahid menyatakan para pendengung di media sosial alias buzzer adalah bagian dari propaganda komputasi. Menurutnya, mereka digunakan untuk memecah belah atau membuat polarisasi di tengah masyarakat lewat maraknya pengguna media sosial.

Propaganda komputasi adalah propaganda yang dilakukan menggunakan algoritma, automasi, dan big data untuk memengaruhi kehidupan publik.

"Lebih banyak saat ini yang terjadi terpecah belah, mundurnya nalar kritis. Bisa jadi salah satu faktornya penggunaan computational propaganda," ucapnya dalam sebuah diskusi daring yang diadakan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Senin (1/3).


Menurut Anita, buzzer biasanya mempunyai kelompok atau pasukannya sendiri. Biasanya, kata dia, buzzer digunakan untuk menggiring isu atau menyerang seseorang.

Selain buzzer, Anita mengatakan alat propaganda komputasi lainnya adalah Bots. Bots yang sejatinya akun palsu di media sosial biasanya digunakan untuk membantu pembuat kebijakan menggaungkan suatu persoalan demi mempermudah mengambil keputusan terhadap kebijakan tersebut.

Cara kerjanya yaitu membuat seakan-akan jumlah orang yang setuju atau tidak setuju terhadap satu kebijakan itu terlihat banyak.

"Contoh dalam konteks Revisi UU KPK, bots banyak bermain. Untuk memperlihatkan yang setuju atau tidak, sehingga jadi justifikasi bagi pengambil kebijakan," kata putri dari mendiang Presiden keempat Ri Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut.

Selain itu, sambung Anita, bots juga berguna untuk menutup suara yang tidak sejalan dengan pengambil kebijakan dalam pembicaraan di media sosial.

Contoh propaganda komputasi lainnya, kata Anita, adalah penggunaan influencer. Ia menilai para influencer dipekerjakan untuk menggaet suara agar publik setuju dengan pembuat kebijakan atau suatu isu.

"Influencer mereka biasanya diambil karena mereka terkenal. Seperti saat pengesahan Omnibus [law UU cipta kerja], banyak artis yang ngomongin tapi sebenarnya mereka juga enggak ngerti," ucapnya.

Infografis Menguak Alur Kerja Industri Buzzer

Menurut Anita baik buzzer, bots, dan influencer itu semuanya sama-sama menyebabkan polarisasi di tengah masyarakat. Namun, polarisasi bukanlah titik akhir yang ingin dicapai.

Pada pemilihan presiden tahun 2014 dan 2019 lalu, Anita melihat ada dampak polarisasi yang ditimbulkan propaganda komputasi. Namun, polarisasi tersebut hanya lah sebuah batu loncatan untuk menuju tujuan yang lebih jauh.

"Polarisasi yang ada saat ini akibat pilpres itu sebenarnya bukan dampak pilpres, tapi hanya satu fase batu loncatan untuk digunakan kebutuhan lain seperti memperlancar pengesahan kebijakan," ujarnya.

(yla/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK