Titik Api Diam di Kubah Merapi dan Potensi Bahayanya
CNN Indonesia
Sabtu, 06 Mar 2021 06:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara terlihat dari Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (11/1/2021). (Foto: Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)
Yogyakarta, CNN Indonesia --
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengungkap penemuan titik api diam yang terpantau di kubah lava bagian tengah kawah Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan, api diam merupakan lava panas bersuhu tinggi yang menandakan bahwa magma sudah berada di permukaan. Api diam ini teramati pada 4 Maret 2021 lalu.
"Ini menandakan bahwa ada magma yang bergerak dari dalam menuju ke permukaan," kata Hanik melalui siaran BPPTKG yang ditayangkan secara daring, Jumat (5/3).
Api diam yang muncul di sisi lereng ketika mengalami pembekuan akan menjadi kubah lava. Sementara yang dikenal sebagai lava pijar, adalah bila api diam langsung meluncur ke bawah.
Sedangkan untuk kubah lava pada bagian tengah kawah yang pertumbuhannya teramati per 4 Februari 2021, hingga kini belum bisa dipastikan volumenya. Hal tersebut lantaran tingginya kecepatan angin sehingga tak memungkinkan bagi BPPTKG untuk menerbangkan drone.
Kendati begitu Hanik menyebut ada peningkatan tinggi kubah lava sekitar 5 meter bila dilihat lewat pengamatan kamera CCTV di Pos Deles.
"Untuk volumenya ini hanya perkiraan saja, kalau 5 meter ya bertambahnya (volume) sekitar 200an ribu (meter kubik)," urai Hanik.
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (18/1/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)
Untuk kubah lava di sisi barat daya pun terpantau terus tumbuh dengan volume yang kini mencapai 711 ribu meter kubik. Laju pertumbuhan sepanjang 4 Januari hingga 5 Maret sebesar 13.900 meter kubik.
"Kemudian untuk per hari ini rate-nya 8.300an (meter kubik)," sambung Hanik.
Potensi Bahaya di Sungai Gendol
Adapun kubah lava pada bagian tengah kawah tercatat terus tumbuh. Aktivitas pijaran dan guguran lava tersebut sudah bisa teramati dari lereng. Kondisi tersebut pun menjadi tanda kemungkinan terjadinya guguran dan awan panas ke arah Kali Gendol.
Indikasi itu membuat petugas BPPTKG merekomendasikan potensi bahaya guguran lava dan awan panas di sektor Sungai Gendol sejauh 3 kilometer.
Sementara potensi bahaya serupa dengan jarak sejauh 5 kilometer juga diperkirakan mengancam kawasan di sektor selatan-barat daya. Wilayah tersebut meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih.
"Hujan abu juga sudah sering terjadi di sekitar Gunung Merapi. Masyarakat dan pemerintah daerah agar mengantisipasi bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," kata Hanik mengimbau.
Bulan pertama di Tahun 2021, Indonesia dihantam bencana: Dari Aceh hingga Papua; dari rentetan gempa, erupsi gunung, hingga banjir. (CNN Indonesia/Timothy Loen)
BPPTKGmencatat hingga 5 Maret 2021 total telah terjadi 111 kali guguran awan panas di Gunung Merapi, terhitung sejak 7 Januari 2021. Sedangkan pada pekan ini saja terpantau terjadi 10 kali guguran awan panas.
Hingga saat ini aktivitas guguran lava dan awan panas guguran di Gunung Merapi masih kerap terjadi. Selama fase erupsi, intensitas guguran termasuk dalam data pemantauan yang vital karena dapat menggambarkan perkembangan erupsi.
"Sampai sejauh ini jumlah guguran dan awan panas cenderung meningkat. Jarak jangkau untuk awan panasnya maupun gugurannya maksimum 3,2 Km [dari puncak]," ungkap Hanik.
Adapun aktivitas kegempaan Merapi pada pekan ini tercatat terjadi 10 kali awan panas guguran (AP); 1 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB); 4 kali gempa Fase Banyak (MP), 1.135 kali gempa Guguran (RF); 71 kali gempa Hembusan (DG); dan 3 kali gempa Tektonik (TT).
"Secara umum kegempaan internal pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu. Kegempaan internal sejak 12 Januari 2021 mengalami penurunan," terang dia lagi.
Namun, peningkatan terlihat pada aktivitas gempa guguran Merapi. Deformasi Gunung Merapi yang dipantau memanfaatkan Electronics Distance Measurement (EDM) mengalami laju pemendekan 0,1 cm/hari.
"Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga (level III)," pungkas Hanik.
Masih dalam pekan ini, Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta ini mengeluarkan dua kali guguran awan panas pada Selasa (2/3). Perkiraan jarak luncur tersebut sejauh 1.900 meter ke arah barat daya.
Gunung Merapi sendiri masih berstatus siaga atau level III. Dengan status ini, masyarakat diimbau tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
Selain itu, masyarakat juga diminta agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Infografis Fakta Menarik Gunung Merapi. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengungkap penemuan titik api diam yang terpantau di kubah lava bagian tengah kawah Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan, api diam merupakan lava panas bersuhu tinggi yang menandakan bahwa magma sudah berada di permukaan. Api diam ini teramati pada 4 Maret 2021 lalu.
"Ini menandakan bahwa ada magma yang bergerak dari dalam menuju ke permukaan," kata Hanik melalui siaran BPPTKG yang ditayangkan secara daring, Jumat (5/3).
Api diam yang muncul di sisi lereng ketika mengalami pembekuan akan menjadi kubah lava. Sementara yang dikenal sebagai lava pijar, adalah bila api diam langsung meluncur ke bawah.
Sedangkan untuk kubah lava pada bagian tengah kawah yang pertumbuhannya teramati per 4 Februari 2021, hingga kini belum bisa dipastikan volumenya. Hal tersebut lantaran tingginya kecepatan angin sehingga tak memungkinkan bagi BPPTKG untuk menerbangkan drone.
Kendati begitu Hanik menyebut ada peningkatan tinggi kubah lava sekitar 5 meter bila dilihat lewat pengamatan kamera CCTV di Pos Deles.
"Untuk volumenya ini hanya perkiraan saja, kalau 5 meter ya bertambahnya (volume) sekitar 200an ribu (meter kubik)," urai Hanik.
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (18/1/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)
Untuk kubah lava di sisi barat daya pun terpantau terus tumbuh dengan volume yang kini mencapai 711 ribu meter kubik. Laju pertumbuhan sepanjang 4 Januari hingga 5 Maret sebesar 13.900 meter kubik.
"Kemudian untuk per hari ini rate-nya 8.300an (meter kubik)," sambung Hanik.
Potensi Bahaya di Sungai Gendol
Adapun kubah lava pada bagian tengah kawah tercatat terus tumbuh. Aktivitas pijaran dan guguran lava tersebut sudah bisa teramati dari lereng. Kondisi tersebut pun menjadi tanda kemungkinan terjadinya guguran dan awan panas ke arah Kali Gendol.
Indikasi itu membuat petugas BPPTKG merekomendasikan potensi bahaya guguran lava dan awan panas di sektor Sungai Gendol sejauh 3 kilometer.
Sementara potensi bahaya serupa dengan jarak sejauh 5 kilometer juga diperkirakan mengancam kawasan di sektor selatan-barat daya. Wilayah tersebut meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih.
"Hujan abu juga sudah sering terjadi di sekitar Gunung Merapi. Masyarakat dan pemerintah daerah agar mengantisipasi bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," kata Hanik mengimbau.
Bulan pertama di Tahun 2021, Indonesia dihantam bencana: Dari Aceh hingga Papua; dari rentetan gempa, erupsi gunung, hingga banjir. (CNN Indonesia/Timothy Loen)
Tercatat 111 Kali Guguran Awan Panas Sejak 7 Januari
Ilustrasi. Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (7/1/2021). (Foto: Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)
BPPTKGmencatat hingga 5 Maret 2021 total telah terjadi 111 kali guguran awan panas di Gunung Merapi, terhitung sejak 7 Januari 2021. Sedangkan pada pekan ini saja terpantau terjadi 10 kali guguran awan panas.
Hingga saat ini aktivitas guguran lava dan awan panas guguran di Gunung Merapi masih kerap terjadi. Selama fase erupsi, intensitas guguran termasuk dalam data pemantauan yang vital karena dapat menggambarkan perkembangan erupsi.
"Sampai sejauh ini jumlah guguran dan awan panas cenderung meningkat. Jarak jangkau untuk awan panasnya maupun gugurannya maksimum 3,2 Km [dari puncak]," ungkap Hanik.
Adapun aktivitas kegempaan Merapi pada pekan ini tercatat terjadi 10 kali awan panas guguran (AP); 1 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB); 4 kali gempa Fase Banyak (MP), 1.135 kali gempa Guguran (RF); 71 kali gempa Hembusan (DG); dan 3 kali gempa Tektonik (TT).
"Secara umum kegempaan internal pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu. Kegempaan internal sejak 12 Januari 2021 mengalami penurunan," terang dia lagi.
Namun, peningkatan terlihat pada aktivitas gempa guguran Merapi. Deformasi Gunung Merapi yang dipantau memanfaatkan Electronics Distance Measurement (EDM) mengalami laju pemendekan 0,1 cm/hari.
"Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga (level III)," pungkas Hanik.
Masih dalam pekan ini, Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah istimewa Yogyakarta ini mengeluarkan dua kali guguran awan panas pada Selasa (2/3). Perkiraan jarak luncur tersebut sejauh 1.900 meter ke arah barat daya.
Gunung Merapi sendiri masih berstatus siaga atau level III. Dengan status ini, masyarakat diimbau tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.
Selain itu, masyarakat juga diminta agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Infografis Fakta Menarik Gunung Merapi. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)