Strategi KKP Dorong Produksi Perikanan di RI
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot produktivitas dan nilai tambah ikan air tawar daerah di Indonesia. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyampaikan terkait hal ini, pihaknya akan menerapkan lima strategi salah satunya melalui pengembangan sistem perbenihan. Adapun upaya ini berfokus pada produksi varian komoditas unggul yang potensial dikembangkan dan menjamin sistem logistik benihnya secara efisien.
Kedua, Slamet menyampaikan akan mengembangkan sistem produksi yang fokus pada penciptaan efisiensi produksi dan produktivitas budidaya. Hal ini meliputi pengembangan inovasi teknologi yang aplikatif, efisien dan adaptif, pengembangan pakan mandiri yang efisien dan penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik.
"Ketiga, melakukan pengembangan sistem kesehatan ikan dan lingkungan yang fokus pada upaya pencegahan dan penanggulangan hama penyakit serta pengelolaan lingkungan. Kempat, penguatan kapasitas SDM para pelaku dan kelembagaan di sentral sentral produksi. Dan kelima, mendorong pengembangan sistem bisnis terintegrasi (integrated aquaculture business) di sentral produksi untuk menjamin efisiensi dan market," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (15/3/2021).
Lebih lanjut ia menyebut saat ini produksi perikanan daerah di Indonesia juga mengalami peningkatan. DI Yogyakarta misalnya, meskipun di tengah pandemi Yogyakarta mampu memproduksi hingga 93 ribu ton ikan.
Foto: Dok. KKP |
Dalam hal ini, Yogyakarta menjadi daerah yang terbesar memproduksi ikan air tawar. Adapun produksi tertinggi yakni produksi ikan lele, lalu nila dan gurami. Sementara itu, kabupaten dengan data produksi perikanan budidaya terbesar adalah Sleman.
"Saya sangat apresiasi dengan data sementara capaian kinerja tahun 2020 dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Yogyakarta bahwa untuk program peningkatan produksi perikanan budidaya dengan target terbesar 89 ribu ton, mampu terealisasi yakni sekitar 93 ribu ton. Ini capaian yang sangat luar biasa, meski kondisi sedang pandemi. Sekali lagi, saya sangat mengapresiasi meskipun pandemi COVID-19, DI Yogyakarta ini tetap berkomitmen membangun subsektor perikanan budidaya untuk dapat berkontribusi besar dalam perekonomian nasional," ungkapnya.
Di sisi lain, Bupati Sleman, Sri Purnomo mengatakan capaian ini merupakan hasil upayanya yang terus melakukan sosialisasi penerapan budidaya ikan yang baik (good aquaculture practices) secara terus menerus.
"Langkah ini kami lakukan untuk menyiapkan pelaku utama dan pelaku usaha untuk selalu mengutamakan kualitas dan peduli lingkungan dalam mengusahakan perikanan di era persaingan global saat ini dan di masa yang akan datang," katanya.
Selain itu, Sri menyebut Kabupaten Sleman juga telah melakukan pengembangan kawasan perikanan terintegrasi wisata, antara lain Mina Wisata Technopark Samberembe, Candibinangun, Pakem (Taman Wisata Teknologi Perikanan); Kawasan Mina Wisata Sistem Budidaya Ikan dengan Sentuhan Teknologi Kincir Air (Sibudi Dikucir) di Garongan, Wonokerto, Turi; Kawasan Mina Wisata di Sumberagung, Moyudan; Mina Wisata Tuk Pitu di Sumberan, Candibinangun, Pakem.
Hingga tahun 2020, pertumbuhan kelompok pembudidaya ikan juga telah mencapai sekitar 675 kelompok.
"Peningkatan jumlah kelompok ini menjadi bukti bahwa perikanan budidaya telah menjadi usaha yang cukup diminati di masyarakat khususnya kabupaten Sleman. Dan kelompok Pembudidaya Ikan di Kabupaten Sleman kemampuannya cukup dikenal dan diperhitungkan secara nasional. Hal ini ditunjukkan oleh penghargaan yang diterima oleh pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman, baik di tingkat lokal maupun nasional," katanya.
Sementara itu, dalam kunjungannya ke Sleman pada Senin (18/1), Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan keyakinannya terhadap potensi perikanan budidaya terhadap perputaran ekonomi, baik untuk kebutuhan pangan, nilai ekonomi serta peluang lapangan kerja. Ia juga menyampaikan perikanan budidaya bermanfaat untuk kelestarian, kesinambungan generasi ke depan.
Menurutnya, jika tidak dibudidayakan maka sumberdaya perikanan akan habis sehingga perlu dilestarikan melalui gerakkan perikanan budidaya.
"Perikanan budidaya adalah masa depan sektor perikanan kita. Maka dari itu harus kita kembangkan. Mulai dari pembenihan hingga pembesaran, serta pakan. Dan saya berharap pakan ini bisa dikembangkan antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi untuk mendapatkan pakan yang lebih baik," katanya.
Terkait hal ini, Trenggono menyampaikan akan memastikan pihaknya intens bekerjasama dengan dinas dan kepala. Selain itu, ia juga akan memperbaiki pesisir pantai, perikanan darat atau perikanan air tawar.
Hal ini mengingat perikanan darat punya nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat jika dikembangkan secara maksimal.
"Bukan hanya di Sleman Yogyakarta saja, tapi merata di seluruh daerah di Indonesia untuk kita kembangkan perikanan budidaya, katanya.
Trenggono menegaskan tagline KKP 2021 adalah menggerakan perikanan budidaya, yang diyakini dapat menjadi penopang ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi daerah di tengah COVID-19. Oleh karena itu, Trenggono mengajak seluruh masyarakat khususnya pembudidaya agar berbudidaya ikan secara mandiri dan berkelanjutan.
Ia berharap nantinya pembudidaya mampu memproduksi benih, dan pakan sendiri. Sehingga produktivitas perikanan nasional khususnya perikanan budidaya terus meningkat sehingga produksinya tidak terganggu meski di tengah pandemi sekali pun.
"Kita tahu pandemi COVID-19 menerjang di semua sektor. Sementara, produksi perikanan budidaya sangat dibutuhkan baik untuk ketahanan pangan maupun untuk pembangunan ekonomi daerah serta nasional," katanya.
Foto: Dok. KKP |
Sementara itu, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Supriyadi, menyebutkan selama 2020 KKP telah memberikan progam bantuan melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi ke DI Yogyakarta antara lain 4.000 ekor calon induk nila dan 900 ekor calon induk lele.
Adapun program bantuan calon induk ikan ini merupakan progam nasional KKP dengan harapan pemerintah dapat menjamin kualitas benih yang beredar di masyarakat.
"Penyaluran bantuan calon induk ikan unggul kepada masyarakat merupakan langkah pemerintah untuk memastikan benih yang dihasilkan memiliki standar mutu yang tinggi. Kualitas dan kuantitas induk unggul di masyarakat merupakan elemen penting sebagai pendukung peningkatan produksi perikanan budidaya," jelasnya.
Melalui pemberian bantuan ini, ia berharap pembudidaya dapat menikmati induk-induk ikan yang jelas asal usulnya dan lebih unggul dan bermutu. Dengan begitu, hal ini akan mendukung peningkatan produksi perikanan serta pembangunan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan.
Soal bantuan tersebut, Ketua Kelompok Budidaya Lele Kolam Bundar Omah Lele Catfish Farm Bantul, Tri Wibowo menyebut selama usaha budidaya lele kelompoknya belum mendapat bantuan dari pemerintah. Namun ke depan berharap ada bantuan mesin pakan pelet extruder.
"Selama ini mandiri tapi kami berharap ada bantuan untuk mesin pelet. Karena kita tahu budidaya lele cost tertinggi di pakan. Kalau ada mesin pelet akan sangat membantu kami, karena bisa memproduksi pakan sendiri, sehingga cost pakannya bisa ditekan," harapnya.
Menurutnya, budidaya lele kolam bundar sangat menguntungkan. Selain serangan penyakit mudah dikontrol, padat tebar juga bisa tinggi yakni 500-600 ekor/m3. Sedangkan, untuk konvensional hanya 100-200 ekor/m3, sehingga jauh lebih praktis dan memproduksi hasil lebih besar.
"Selama ini hasilnya sangat menguntungkan, tapi kalau kita bisa produksi pakan mandiri, pasti keuntungannya bisa lebih bagus lagi," katanya.
Adapun untuk hasilnya, Tri mengungkapkan dirinya masih menjual hasil di sekitar wilayah Yogya. Mengingat, kebutuhan Yogya masih banyak dan baru tercukupi sekitar 60 persen.
"Prospek pengembangan budidaya ikan lele sangat menarik. Karena hasilnya memuaskan," tandas Tri.
(adv/adv) Add
as a preferred source on Google
Foto: Dok. KKP
Foto: Dok. KKP