Kebangkitan Sel Tidur di Balik Teror Bom Gereja Makassar
CNN Indonesia
Rabu, 31 Mar 2021 07:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Personel Densus 88 Anti Teror membawa terduga teroris ke dalam bus di Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/3/2021). (ANTARA FOTO/DIDIK SUHARTONO)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ahli intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib mencatat aksi bom bunuh diri di Gereja KatedralMakassar pada Minggu (28/3), merupakan aksi teror ke-552 di Indonesia dalam dua dekade terakhir sejak 2000.
Aksi itu berselang tak lebih dari dua tahun dari aksi bom bunuh diri serupa yang terjadi di Polrestabes Medan November 2019 lalu. Dan berselang tiga tahun dari tiga bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang dilakukan oleh pasutri dan empat anak mereka.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menemukan kesamaan dengan pola aksi bom bunuh diri di Makassar dan Surabaya. Keduanya dilakukan oleh pasutri dan menjadikan gereja sebagai target amaliah atau jihad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eks terpidana teroris asal Medan, Khairul Ghazali mengamini ada perubahan pola penyerangan oleh para jihadis terutama dalam lima tahun terakhir. Pola itu berubah sejak kekhalifahan ISIS dideklarasikan pada 2014 di Suriah.
Mereka mulai menjadikan rumah ibadah dan kantor kepolisian sebagai target amaliah. Berbeda dengan target teror di awal 2000an, saat target para jihadis adalah kedutaan besar dan tempat maksiat.
"Itu pola Al-Qaeda. Tapi dengan pola ISIS ini, mereka justru menyasar sasaran utamanya yaitu rumah ibadah dalam hal ini agama Nasrani atau kantor polisi yang menjadi pusat tagut," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/3).
Khairul adalah eks terpidana teroris yang pernah empat bulan mendekam di Rutan Mako Brimob. Ia ditangkap pada 2010 karena terlibat perampokan Bank CIMB Niaga di Kota Medan dan menewaskan salah seorang anggota Brimob.
Menurut Khairul, aksi bom bunuh diri di Makassar menunjukkan bahwa sel-sel para pelaku terorisme tak pernah tidur. Ia menyebut tak ada kaitan antara penangkapan yang dilakukan aparat sebelumnya.
Menurut dia, penangkapan tersebut justru membangunkan mereka untuk melalukan aksi teror. Khairul menyebut, mereka justru terpacu untuk melakukan balas dendam.
"Jadi di situ selain ada unsur balas dendam juga membangunkan sel-sel tidur dengan penangkapan itu tadi," kata dia.
Petugas melakukan dokumentasi dan olah TKP teror bom bunuh diri di depan Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. (AFP/ANDRI SAPUTRA)
Masih di Makassar, Sulawesi Selatan, polisi sedikitnya menangkap 20 orang terduga teroris pada awal Januari lalu. Dalam penangkapan tersebut dua di antaranya tewas. Kemudian pada akhir Januari polisi kembali menangkap lima orang terduga teroris di Aceh.
Pada Februari, total ada 25 terduga teroris yang dibekuk Tim Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Mereka tersebar di beberapa daerah kota dan provinsi mulai dari Jawa Timur, Kalimantan Barat, Jakarta, dan Sumatera.
Sebagian besar di antara mereka terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jemaah Islamiyah (JI).
Khairul membenarkan bahwa semua gerakan teror di Indonesia saat ini memang saling terkait. Dari beberapa yang masih eksis, seperti JAD dan JI, keduanya menginduk ke ISIS.
Meski demikian, Khairul menilai memang ada salah sasaran dari target serangan yang mereka lalukan. Dia mengatakan para jihadis itu saat ini mulai panik sehingga melakukan aksinya secara serampangan. Sebab pada dasarnya, sejak menginduk ke ISIS target mereka adalah sistem pemerintahan. Namun, target itu sulit disasar sehingga mengalihkannya ke aparat dan kantor kepolisian.
"Sudah panik juga mereka sehingga tidak menemukan formula sasaran yang tepat. Jadi mereka asal tendang sana tendang sini. Yang penting bahwa mereka eksis begitu," katanya
Pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie mengatakan sel-sel terorisme di Indonesia saat ini jaringannya masih aktif dan saling terkait dengan JAD, terutama JI.
Menurut Andrie, ada sejumlah daerah yang memang menjadi basis pelaku teror itu, sehingga tetap eksis walaupun aksi penangkapan tengah gencar dilakukan Tim Densus 88. Keberadaan mereka, menurut Andrie, banyak tak terlacak sebab dilindungi oleh para terduga teroris lain yang sudah tertangkap. Mereka juga tak teridentifikasi meski tinggal di tengah lingkungan masyarakat.
"Mengingat bisa jadi melindungi. Bisa jadi memang hanya nama-nama tertentu yang saling berkompromi untuk siapa membuka siapa," kata Andrie.
Seperti yang diungkap Khairul, Andrie menilai teror yang terjadi di Makassar pada akhir pekan lalu adalah aksi balas dendam menyusul penangkapan yang masif dilakukan sebelumnya. Sebab, menurut Andrie, mereka memiliki komitmen untuk mendukung dan melindungi satu sama lain.
Itu, sambungnya, menjadi salah satu motif termasuk yang utama adalah harus terus beramaliah karena ideologi yang mereka yakini.
"Karena penangkapan anggota kelompok harusnya tidak menghalangi niat mereka untuk melanjutkan rencana," katanya.
Teror bom di Katedral Makassar pada akhir pekan lalu itu berselang tak lebih dari dua tahun dari aksi bom bunuh diri serupa yang terjadi di Polrestabes Medan November 2019 lalu. Dan, berselang tiga tahun dari tiga bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang dilakukan pasangan suami-istri (pasutri) dan empat anak mereka.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menemukan kesamaan dengan pola aksi bom bunuh diri di Makassar dan Surabaya. Keduanya dilakukan oleh pasutri dan menjadikan gereja sebagai target amaliah atau jihad.
Mengenai fenomena tersebut, eks terpidana kasus terorisme, Sofyan Tsauri menyatakan memang ada tren lain yang digunakan para kelompok teroris untuk memanfaatkan pasutri sebagai 'pengantin'. 'Pengantin' adalah istilah yang kerap disematkan pada pelaku teror yang memang tak sendiri dalam melakukan aksinya.
Petugas kepolisian mengangkat kantong jenazah berisi bagian tubuh dari terduga pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). (ANTARA FOTO/Indra Abriyanto)
Sofyan yang merupakan mantan anggota kepolisian itu mengatakan tren mulai berlaku sejak beberapa tahun terakhir saat Dita Upriyanto beserta istri dan keempat anak mereka berbagi tugas meledakkan diri di tiga gereja di Surabaya.
Menurut Sofyan, para pelaku yang merupakan pasutri meyakini bahwa aksi bom bunuh diri yang mereka lakukan dapat membawa mereka ke surga bersama-sama.
"Ya mereka pengen masuk surga bareng-bareng. Pengen di akhirat bersama-sama dengan orang yang dicintai. Ada istilah, kita bersama dengan orang yang kita cintai di akhirat nanti, jadi motivasi seperti itu yang kuat," kata Sofyan.
Selain itu, menurut Sofyan, strategi rekrutmen terhadap pada wanita juga untuk memperlihatkan motivasi baru bagi para laki-laki untuk beramaliah.
"Ini juga memicu kepada laki-laki, kalau perempuan saja mereka sudah berani, kenapa laki-lakinya tidak. Jadi ada pesan moral juga yang dilakukan kelompok," imbuhnya.
Ahli intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib mencatat aksi bom bunuh diri di Gereja KatedralMakassar pada Minggu (28/3), merupakan aksi teror ke-552 di Indonesia dalam dua dekade terakhir sejak 2000.
Aksi itu berselang tak lebih dari dua tahun dari aksi bom bunuh diri serupa yang terjadi di Polrestabes Medan November 2019 lalu. Dan berselang tiga tahun dari tiga bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang dilakukan oleh pasutri dan empat anak mereka.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menemukan kesamaan dengan pola aksi bom bunuh diri di Makassar dan Surabaya. Keduanya dilakukan oleh pasutri dan menjadikan gereja sebagai target amaliah atau jihad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eks terpidana teroris asal Medan, Khairul Ghazali mengamini ada perubahan pola penyerangan oleh para jihadis terutama dalam lima tahun terakhir. Pola itu berubah sejak kekhalifahan ISIS dideklarasikan pada 2014 di Suriah.
Mereka mulai menjadikan rumah ibadah dan kantor kepolisian sebagai target amaliah. Berbeda dengan target teror di awal 2000an, saat target para jihadis adalah kedutaan besar dan tempat maksiat.
"Itu pola Al-Qaeda. Tapi dengan pola ISIS ini, mereka justru menyasar sasaran utamanya yaitu rumah ibadah dalam hal ini agama Nasrani atau kantor polisi yang menjadi pusat tagut," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/3).
Khairul adalah eks terpidana teroris yang pernah empat bulan mendekam di Rutan Mako Brimob. Ia ditangkap pada 2010 karena terlibat perampokan Bank CIMB Niaga di Kota Medan dan menewaskan salah seorang anggota Brimob.
Menurut Khairul, aksi bom bunuh diri di Makassar menunjukkan bahwa sel-sel para pelaku terorisme tak pernah tidur. Ia menyebut tak ada kaitan antara penangkapan yang dilakukan aparat sebelumnya.
Menurut dia, penangkapan tersebut justru membangunkan mereka untuk melalukan aksi teror. Khairul menyebut, mereka justru terpacu untuk melakukan balas dendam.
"Jadi di situ selain ada unsur balas dendam juga membangunkan sel-sel tidur dengan penangkapan itu tadi," kata dia.
Petugas melakukan dokumentasi dan olah TKP teror bom bunuh diri di depan Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. (AFP/ANDRI SAPUTRA)
Masih di Makassar, Sulawesi Selatan, polisi sedikitnya menangkap 20 orang terduga teroris pada awal Januari lalu. Dalam penangkapan tersebut dua di antaranya tewas. Kemudian pada akhir Januari polisi kembali menangkap lima orang terduga teroris di Aceh.
Pada Februari, total ada 25 terduga teroris yang dibekuk Tim Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Mereka tersebar di beberapa daerah kota dan provinsi mulai dari Jawa Timur, Kalimantan Barat, Jakarta, dan Sumatera.
Sebagian besar di antara mereka terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jemaah Islamiyah (JI).
Khairul membenarkan bahwa semua gerakan teror di Indonesia saat ini memang saling terkait. Dari beberapa yang masih eksis, seperti JAD dan JI, keduanya menginduk ke ISIS.
Meski demikian, Khairul menilai memang ada salah sasaran dari target serangan yang mereka lalukan. Dia mengatakan para jihadis itu saat ini mulai panik sehingga melakukan aksinya secara serampangan. Sebab pada dasarnya, sejak menginduk ke ISIS target mereka adalah sistem pemerintahan. Namun, target itu sulit disasar sehingga mengalihkannya ke aparat dan kantor kepolisian.
"Sudah panik juga mereka sehingga tidak menemukan formula sasaran yang tepat. Jadi mereka asal tendang sana tendang sini. Yang penting bahwa mereka eksis begitu," katanya
Tim gabungan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri dan Brimob Polda Sulsel menggiring tersangka teroris saat akan diberangkatkan ke Jakarta di Bandara lama Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (4/2/2021). (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie mengatakan sel-sel terorisme di Indonesia saat ini jaringannya masih aktif dan saling terkait dengan JAD, terutama JI.
Menurut Andrie, ada sejumlah daerah yang memang menjadi basis pelaku teror itu, sehingga tetap eksis walaupun aksi penangkapan tengah gencar dilakukan Tim Densus 88. Keberadaan mereka, menurut Andrie, banyak tak terlacak sebab dilindungi oleh para terduga teroris lain yang sudah tertangkap. Mereka juga tak teridentifikasi meski tinggal di tengah lingkungan masyarakat.
"Mengingat bisa jadi melindungi. Bisa jadi memang hanya nama-nama tertentu yang saling berkompromi untuk siapa membuka siapa," kata Andrie.
Seperti yang diungkap Khairul, Andrie menilai teror yang terjadi di Makassar pada akhir pekan lalu adalah aksi balas dendam menyusul penangkapan yang masif dilakukan sebelumnya. Sebab, menurut Andrie, mereka memiliki komitmen untuk mendukung dan melindungi satu sama lain.
Itu, sambungnya, menjadi salah satu motif termasuk yang utama adalah harus terus beramaliah karena ideologi yang mereka yakini.
"Karena penangkapan anggota kelompok harusnya tidak menghalangi niat mereka untuk melanjutkan rencana," katanya.
Teror bom di Katedral Makassar pada akhir pekan lalu itu berselang tak lebih dari dua tahun dari aksi bom bunuh diri serupa yang terjadi di Polrestabes Medan November 2019 lalu. Dan, berselang tiga tahun dari tiga bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang dilakukan pasangan suami-istri (pasutri) dan empat anak mereka.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menemukan kesamaan dengan pola aksi bom bunuh diri di Makassar dan Surabaya. Keduanya dilakukan oleh pasutri dan menjadikan gereja sebagai target amaliah atau jihad.
Mengenai fenomena tersebut, eks terpidana kasus terorisme, Sofyan Tsauri menyatakan memang ada tren lain yang digunakan para kelompok teroris untuk memanfaatkan pasutri sebagai 'pengantin'. 'Pengantin' adalah istilah yang kerap disematkan pada pelaku teror yang memang tak sendiri dalam melakukan aksinya.
Petugas kepolisian mengangkat kantong jenazah berisi bagian tubuh dari terduga pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). (ANTARA FOTO/Indra Abriyanto)
Sofyan yang merupakan mantan anggota kepolisian itu mengatakan tren mulai berlaku sejak beberapa tahun terakhir saat Dita Upriyanto beserta istri dan keempat anak mereka berbagi tugas meledakkan diri di tiga gereja di Surabaya.
Menurut Sofyan, para pelaku yang merupakan pasutri meyakini bahwa aksi bom bunuh diri yang mereka lakukan dapat membawa mereka ke surga bersama-sama.
"Ya mereka pengen masuk surga bareng-bareng. Pengen di akhirat bersama-sama dengan orang yang dicintai. Ada istilah, kita bersama dengan orang yang kita cintai di akhirat nanti, jadi motivasi seperti itu yang kuat," kata Sofyan.
Selain itu, menurut Sofyan, strategi rekrutmen terhadap pada wanita juga untuk memperlihatkan motivasi baru bagi para laki-laki untuk beramaliah.
"Ini juga memicu kepada laki-laki, kalau perempuan saja mereka sudah berani, kenapa laki-lakinya tidak. Jadi ada pesan moral juga yang dilakukan kelompok," imbuhnya.