Melawan Hoaks Saat Pandemi Lewat Pemahaman Literasi Digital

KPC PEN, CNN Indonesia | Selasa, 30/03/2021 21:10 WIB
Permasalahan hoaks ini tidak bisa diatasi satu pihak dan harus komprehensif dari hulu ke hilir melalui literasi digital. Ilustrasi hoaks. (istockphoto/ oatawa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Masa pandemi ternyata tidak membuat hoaks berhenti. Masih ada saja beredar hoaks berbagai hal termasuk hoaks soal pandemi, penanganan Covid-19, mitos-mitos kesehatan dan yang paling hangat terkait vaksinasi.

Faktanya, banyak orang yang juga langsung percaya dan bahkan ikut membagikan berbagai hal yang sebenarnya salah dan tidak jelas sumbernya.

Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Donny Budi Utoyo menyampaikan, apabila diambil rata-ratanya ada 4-5 hoaks baru terkait Covid-19 beredar setiap hari dari Februari 2021 sampai sekarang.


"Hoaks yang terkait vaksinasi sekarang ada 150. Itu terhitung sejak Oktober 2020, sebarannya jauh lebih dahsyat lagi, tersebar pada 900 titik," kata dia dalam Dialog Produktif bertema 'Hoaks Dilawan, Jangan Biarkan' yang diselenggarakan KPCPEN, dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Selasa (30/3).

Hal itu dibenarkan Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Menurut dia, hoaks dikemas dengan memikat melalui judul-judul yang sensasional.

"Masalahnya isu Covid-19 ini diikuti semua kalangan, berbeda dengan isu politik dan Pemilu 2019, tidak semua masyarakat mengikutinya," terangnya.

Di sisi lain, Donny menambahkan bahwa permasalahan hoaks ini tidak bisa diatasi satu pihak. Penanganan hoaks harus komprehensif dari hulu ke hilir. Dalam konteks informasi, kata dia, ada istilah literasi digital yang perlu didorong.

"Sementara pasal-pasal itu ada di bagian bawah (hilir), itu pun upaya terakhir jika memang di hulu kita sudah berusaha semaksimal mungkin, yang perlu diutamakan adalah kerja-kerja kolaboratif para pemangku kepentingan," ujar dia.

Lebih lanjut Donny menuturkan, Kemkominfo saat ini tengah menjalankan program literasi digital, salah satunya melalui program Siberkreasi.

"Sepanjang 2021 kita menargetkan 12,5 juta orang untuk mendapatkan pemahaman literasi digital, salah satunya melawan hoaks," tuturnya.

Adapun ditambahkan Septiaji proses ini perlu waktu yang tak sebentar untuk membangun pemahaman masyarakat yang kuat. menurutnya, Literasi digital ini memang proses yang panjang. "Hasil dari literasi digital mungkin bisa dirasakan 5 - 10 tahun ke depan," terangnya.

Donny pun menekankan strategi komunikasi untuk mencegah hoaks di kalangan masyarakat harus didukung semua kalangan. Selain pemerintah harus turun tangan, tokoh masyarakat dan tokoh agama juga harus turut membantu.

"Tapi kita semua yang punya gadget adalah prajurit- prajurit perang untuk melawan hoaks. Sehingga daripada kita mengutuk gelap lebih baik kita menyalakan lilin. Maksudnya kalau kita ragu itu hoaks, jangan kita sebarkan," tutupnya.

(osc)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK