Masjid Jogokariyan Jogja Pakai GeNose Saring Warga Tarawih

CNN Indonesia | Senin, 12/04/2021 22:56 WIB
Pengurus Masjid Jogokariyan di Mantrijeron, Kota Yogyakarta tak mau ada warga positif virus corona ikut tarawih berjamaah. Ilustrasi GeNose untuk mendeteksi orang yang positif terinfeksi virus corona (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Pengurus Masjid Jogokariyan di Mantrijeron, Kota Yogyakarta menggunakan alat pendeteksi Covid-19, GeNose C19 untuk menyaring jemaah ibadah salat tarawih pada Senin malam (12/4).

Penggunaan GeNose dikhususkan kepada jemaah yang berasal dari luar Kampung Jogokariyan.

"Orang luar (Jogokariyan) kalau mereka baru datang pertama kita layani cek suhu saja. Kasihan kalau sampai di sini langsung ditolak. Hari berikutnya baru kita layani tes GeNose," kata Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ustaz M. Jazir saat ditemui di Masjid Jogokariyan, Senin (12/4) malam.


Dikatakan Jazir, tes GeNose dilayani para petugas kesehatan poliklinik masjid mulai dari pukul 09.00-16.00 WIB. Caranya dengan mendaftarkan diri terlebih dahulu sebelum mendapat nomor antrean tes.

Mereka yang tidak terindikasi terpapar Covid-19 memperoleh kartu penanda dan bisa melaksanakan salat tarawih berjamaah di Masjid Jogokariyan.

Sementara mereka yang terindikasi terpapar virus Corona, untuk warga luar Jogokariyan, disarankan memeriksakan diri ke rumah sakit. Sedangkan khusus warga kampung dianjurkan menjalani isolasi di rumah masing-masing atau di lokasi karantina yang sudah disediakan pengurus lingkungan.

"Petugas kita mengenali mana yang warga Jogokariyan, mana yang bukan. Ini tadi ada yang terindikasi (terpapar) tapi enggak tahu jumlahnya berapa," ungkapnya.

"Selain itu Genose kita tidak hanya memaparkan positif negatif saja. Di sini (hasil skrining) ada tingkat keterpaparannya, ringan atau bagaimana, lalu ada rekomendasi dibawa ke mana," sambung Jazir.

Warga luar Jogokariyan yang lolos pemeriksaan GeNose akan ditempatkan di lantai bangunan masjid terpisah dengan jemaah lokal. Fasilitas seperti toilet pun turut dikhususkan.

Adapun tarif untuk sekali pemeriksaan GeNose yakni sebesar Rp15 ribu yang kemudian disalurkan sebagai dana infaq masjid. Namun, untuk warga Jogokariyan sama sekali tidak dikenakan biaya alias gratis.

"Dana itu nantinya buat beli plastik (penampung sampel nafas) lagi," lanjutnya.

Dikatakan Jazir, dalam sehari mesin GeNose milik Masjid Jogokariyan bisa memeriksa sampai seratus orang atau lebih. Tergantung persediaan kantong plastik penampung sampel nafas.

Para pengurus masjid juga sudah menyediakan HEPA filter cadangan nafas. Sesuai pedoman penggunaan mesin GeNose C19, HEPA filter wajib diganti apabila mesin telah mengidentifikasi sampel nafas positif.

Jazir menyebut pihaknya berencana menambah dua unit GeNose di Masjid Jogokariyan. Hanya saja perangkat tambahan tidak bisa didatangkan langsung dengan cepat.

"Karena masih terbatas, ini kita dapat satu saja pesannya sudah tiga bulan lalu, datangnya baru sepuluh hari lalu. Dan itu kita belinya pakai dana masjid," kata Jazir.

Pelaksanaan salat tarawih berjamaah di Masjid Jogokariyan sendiri menyesuaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Seperti menerapkan aturan wajib pengenaan masker, berjarak tiap safnya, dan pembatasan kapasitas.

Dengan penerapan pembatasan kapasitas ini, masjid hanya menampung 700 jemaah dari kapasitas maksimal sebanyak 1.300 orang.

Para takmir juga rutin melakukan disinfeksi ke setiap sudut bangunan sepuluh kali setiap harinya. Dilaksanakan tiap sebelum dan sesudah salat lima waktu.

"Harapannya kita ingin Ramadan tetap bisa melaksanakan ibadah dengan baik, suasana semarak, dan aman," ujarnya.

(kum/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK