Dilema Dosen soal Riset Tak Maksimal di Lingkungan Kampus

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 08:18 WIB
Guru besar UPI Bandung menyatakan di kalangan dosen ada dilema terkait riset akademis tak maksimal dan beban mengajar yang terbilang tinggi di Indonesia. ilustrasi penelitian, (iStockphoto/Nastasic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Guru besar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Said Hamid Hasan, mengakui di kalangan para dosen ada dilema terkait riset akademis yang maksimal dan beban mengajar yang terbilang tinggi di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.

Hal tersebut, sambungnya, menjadi salah satu faktor kendala tersendiri sehingga membuat riset di lingkungan perguruan tinggi Indonesia terbilang memprihatinkan.

"Kondisi penelitian di perguruan tinggi masih memprihatinkan. Dosen yang melakukan penelitian masih terbebani oleh pekerjaan mengajar yang penuh. Asisten dan mahasiswa yang dilibatkan juga kurang waktu untuk riset karena dibebani tugas rutin," tuturnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/4).


Pria yang akrab disapa Hamid mengatakan sampai saat ini belum ada praktisi riset yang diangkat khusus hanya untuk kebutuhan penelitian di perguruan tinggi. Kebanyakan peneliti datang dari kalangan dosen yang juga dituntut memenuhi waktu mengajar.

Sementara dari sisi anggaran, Hamid mengungkap dana penelitian kerap kali terlambat cair. Padahal, sambungnya, dalam menggelar riset sendiri peneliti dikejar atau dibatasi waktu. Profesor di bidang pendidikan sejarah dan kurikulum itu menuturkan satu riset umumnya dapat memakan biaya hingga Rp40-50 juta dengan waktu penelitian 4-6 bulan yang dirancang untuk 12 bulan.

Menurutnya riset akademik di perguruan tinggi saat ini masih tertinggal dan butuh dikembangkan. Khususnya di bidang teknologi, kedokteran, ekonomi dan pendidikan.

Pada bidang teknologi, Hamid menyarankan riset difokuskan pada lingkup pertanian, transportasi, komunikasi dan energi solar yang dinilai masih sangat minim.

Sementara di bidang pendidikan, riset terkait guru, pembelajaran dan penilaian hasil belajar juga dinilai kurang memadai. Ia menegaskan penelitian ini dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas.

"Pemerintah perlu mengeluarkan dana yang besar untuk penelitian dan waktu yang cukup," ujar pria yang pernah memimpin Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) dan Asosiasi Peneliti dan Pendidik Sejarah Indonesia (APPSI) tersebut.

Sebelumnya, diketahui Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berencana melimpahkan tanggung jawab di bidang riset akademik ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Riset dan Teknologi wacananya akan dihapus dan digabung ke kementerian di bawah naungan Nadiem Makarim.

Nadiem sendiri belum banyak berbicara soal wacana tersebut. Namun Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam mengatakan perguruan tinggi saat ini mendominasi 80 persen kapasitas riset di Indonesia.

(fey/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK