Vaksin Sinovac Diprediksi Dapat Sertifikasi WHO Akhir Mei

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 20:45 WIB
Sertifikasi WHO bagi Sinovac diprediksi terbit akhir Mei. Meski belum disertifikasi WHO, Sinovac diklaim aman karena mengantongi EUA dari BPOM RI. Petugas menunjukkan wadah berisi vaksin Covid-19 buatan Sinovac. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memperkirakan sertifikasi alias emergency use listing (EUL) dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk vaksin asal perusahaan China, Sinovac, akan keluar akhir Mei 2021.

EUL ini diperlukan saat sebuah vaksin akan digunakan untuk program WHO. Salah satu persoalan dari belum terbitnya EUL vaksin Sinovac itu di Indonesia adalah Arab Saudi menegaskan vaksinasi itu tak bisa memenuhi syarat untuk menunaikan umrah ke Tanah Suci, Mekkah karena tak dijamin WHO

Di Indonesia sendiri, vaksin Sinovac tak bisa jadi syarat umrah sebab belum disertifikasi WHO.


"Vaksin AstraZeneca telah memperoleh EUL sejak bulan Februari 2021. Sedangkan vaksin Sinovac telah mengikuti prosedur pengurusan EUL, dan prediksi pemberian EUL yaitu pada akhir bulan Mei 2021," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (14/4).

Wiku menjelaskan vaksin Sinovac yang sudah digunakan di Indonesia aman sebab telah mengantongi izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pemeriksa Obat-obatan dan Makanan (BPOM) RI sejak 11 Januari lalu.

EUA dan EUL, kata Wiku, merupakan hal yang tidak perlu dirisaukan, sebab keduanya memiliki tujuan penggunaan yang serupa.

Ia menerangkan EUL ditujukan kepada produk yang berkomitmen menyelesaikan pengembangan produk dan mengajukan prakualifikasi WHO. Dengan begitu, vaksin yang diberikan EUL akan menjadi daftar vaksin WHO yang kemudian didistribusikan ke negara-negara yang membutuhkan, salah satunya seperti dalam skema kerjasama multilateral GAVI COVAX Facility.

Sementara EUA, sambungnya, digunakan untuk menilai kualitas, keamanan, dan kemanjuran vaksin. Izin itu diberikan secara terbatas di suatu negara.

"Saya hendak mempertegas baik EUL dan EUA adalah dua bentuk izin penggunaan terbatas untuk vaksin, obat-obatan dan alat diagnostic in vitro atas dasar pertimbangan yang intinya sama, yaitu diperuntukkan penyakit serius dan mematikan," ujar Wiku yang juga dikenal sebagai Guru Besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tersebut.

Sebelumnya, status Sinovac sempat kembali dipertanyakan publik usai Menteri Agama Yaqut menyebut vaksin buatan China itu belum bisa jadi syarat jemaah umrah karena belum disertifikasi WHO. Namun, Yaqut memastikan Sinovac dalam proses untuk mendapatkan sertifikasi tersebut.

Sementara itu, pemerintah Arab Saudi mulai membuka pintu umrah mulai awal Ramadan 1442 H. Salah satu syarat yang ditetapkan adalah vaksinasi jemaah umrah.

Namun demikian, Indonesia dan 19 negara lain belum diberikan akses untuk mengirimkan calon jemaah ibadah umrah ke Arab Saudi pada Ramadan ini.

(khr/pris)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK