Polri Akan Evaluasi Virtual Police Usai Kasus Jozeph Zhang

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 13:12 WIB
Polri bakal mengevaluasi kinerja virtual police usai mencuatnya video pria mengaku nabi ke-26 yakni Jozeph Paul Zhang, yang diduga memuat unsur penistaan agama. Ilustrasi virtual police. (Istockphoto/ Dusanpetkovic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polri menyatakan bakal mengevaluasi kerja polisi virtual (Virtual Police) pascaberedarnya video yang diduga memuat unsur penistaan agama oleh seorang pria bernama samaran Jozeph Paul Zhang di media sosial.

Diketahui, Jozeph dalam video itu mengaku sebagai nabi ke-26 dan dianggap mengolok-olok agama Islam. Pernyataan itu diutarakan pria bernama asli Shindy Paul Soerjomoeljono tersebut dalam forum diskusi daring bertajuk 'Puasa Lalim Islam'.

"Ternyata dengan kejadian-kejadian ini, tentunya menjadi penilaian bagi Polri bagaimana Virtual Police bisa dilaksanakan secara lebih aktif lagi," kata Kepala Biro Penerangan Masyrakat (Karopenmas) Polri, Brigadir Jenderal Rusdi Hartono kepada wartawan, Senin (19/4).


Rusdi pun menjelaskan polisi juga mengkaji agar virtual police dapat bekerja lebih aktif lagi. Pasalnya, lanjut dia, selama ini terdapat pihak yang merasa tidak puas dengan kehadiran virtual police.

Sehingga, hal tersebut menjadi salah satu penilaian dalam evaluasi kinerja polisi yang berjaga di dunia maya ini.

Namun demikian, kata Rusdi, langkah tersebut juga ditempuh guna mencegah terjadinya kasus-kasus serupa di media sosial. Dia mengaku polisi telah memonitor diskusi daring tersebut sebelum menjadi polemik dan beredar luas di masyarakat.

"Sudah monitor itu semua, sebelum viral sudah termonitor. Ketika viral di masyarakat tentunya Polri telah ambil langkah-langkah," ucapnya lagi menambahkan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono memberi keterangan kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Senin (25/1).Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono. (CNN Indonesia/ Michael Joshua)

Polri sendiri sejauh ini telah meminta penjelasan dari para ahli terkait kasus Jozeph. Saksi yang dimaksud mulai dari ahli bahasa, ahli sosiologi hukum, hingga ahli pidana.

Rusdi mengatakan dengan pernyataannya dalam video itu, Jozeph bisa dikenakan pasal 28 Ayat (2) UU ITE dan Pasal 156a KUHP.

"Unsur pasal yang bisa dikenakan pertama ujaran kebencian dalam UU ITE dan juga penodaan agama yang ada di KUHP," ucap dia.

Hanya saja, Jozeph saat ini sedang berada di luar Negeri. Dia diduga menetap di Jerman sehingga kepolisian perlu bekerja sama dengan Interpol untuk menindaklanjuti perkara. Jozeph yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu oleh Bareskrim Polri juga sudah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), sehingga akan berkoordinasi dengan jaringan interpol lewat penerbitan red notice.

Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham menyatakan Jozeph Paul Zhang sudah keluar dari Indonesia sejak 2018 silam. Pada 11 Januari tiga tahun lalu, Jozeph Paul Zhang tercatat keluar Indonesia menuju Hong Kong.

Infografis Cara Kerja Virtual Police
(mjo/nma)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK